Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘slaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa yang menyakiti waliku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai selain apa yang Aku wajibkan baginya. Hamba-Ku senantiasa mendekat diri kepada-Ku dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku, pasti aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti aku lindungi.’” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6502] Hadits di atas merupakan hadits yang masuk ke dalam 40 hadits pilihan dalam kitab hadits yang masyhur di kalangan umat muslim, Arbain Nawawi. Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al-Abbad Al-Badr dalam kitabnya Fathul Qowi Matiin, menjelaskan yang dimaksud dengan Wali Allah adalah mereka orang yang beriman dan bertaqwa. Seperti yang kita mafhumi bersama, taqwa diartikan sebagai menjalankan segala perintah Allah SWT. dan menjauhi segala sesuatu yang dilarang Allah SWT. Adapun taqwa sendiri merupakan output dari ibadah puasa di bulan Ramadhan seperti yang pernah kita bahas pada artikel sebelumnya. Sejalan dengan kesepakatn ulama tentang definisi taqwa, dalam kitab Fathul Qowi Matin, pengarang pun menjelaskan tentang hal ini. Predikat orang yang bertakwa hanya dapat dicapai dengan menjalankan segala sesuatu yang Allah SWT. wajibkan kepada orang yang beriman. Kewajiban-kewajiban itu akan membuat pelakunya semakin dekat dengan Allah SWT. karena Allah SWT mencintainya. Kecintaan Allah SWT. terhadap orang yang menjalankan kewajibannya terhadap Allah SWT. muncul karena mereka sejatinya tidak hanya melakukan perintah untuk menjalankan wajib. Namun juga menjauhi apa yang Allah SWT. Haramkan padanya. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, setiap maksiat akan menghasilkan titik hitam pada hati manusia, dan setiap yang Allah SWT. haramkan merupakan sebuah maksiat bagi jiwa dan raga orang beriman. Tidak hanya itu saja, orang yang istiqomah menjalankan kewajiban mereka terhadap Tuhannya, tidak hanya berarti menjauhi dirinya dari apa yang diharamkan. Tapi menumbuhkan cinta pada amalan lain yang secara hukum fiqhnya sunnah dalam amaliah hariannya. Ketika seseorang sudah mengisi amaliah hariannya dengan kewajiban dan sunnahnya, maka akan muncul dalam hatinya rasa rindu kepada Sang Maha Cinta, Allah SWT. Sementara itu, Allah SWT. sudah berjanji bahwa setiap cinta hambanya akan dibalas dengan cinta-Nya pada si hamba. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran : 31) Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. (QS. Al-Baqarah : 152) Dari kedua ayat itu jelas, bagaimana Allah SWT. membalas cinta hamba-Nya. Untuk mencapai cinta Allah SWT. maka kita harus mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW seperti yang diperintahkan dalam surat Ali Imran di atas. Juga seperti yang sudah dijelaskan dalam artikel sebelumnya, mengikuti sunnah Rasulullah SAW bukan hanya sekedar merubah tampilan dan merubah bahasa yang kita gunakan. Tapi merubah segala sesuatu secara menyeluruh, termasuk perangai dan akhlak Rasulullah SAW. Akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an, hatinya tidak ada sedikitpun rasa benci ataupun penyakit hati lain yang pasti menjangkiti hati manusia pada umumnya. Momen lailatul Qadr, seharusnya membuat kita merenung untuk mengoreksi diri agar kita bisa mengikuti jejak Rasulullah SAW secara menyeluruh. Bukan hanya tentang tampilan fisik, namun juga isi hati. Karena akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an, maka hati beliau pasti sangat bersih dari segala kotoran-kotoran hati yang dapat merusak hubungan cinta antara Tuhan dan hambanya. Untuk itu, tidak ada gunanya jika kita merasa agung dengan segala amal perbuatan kita sementara hati kita tidak dipenuhi rasa cinta kepada-Nya dan pada kekasihnya. (Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak.Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.Surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa. (QS. Asy-Syu’ara: 88-90) 126 Views
Menjemput Lailatul Qadr (Bagian 7) I’tikaf Jangan Hanya Fomo
Sepuluh hari terakhir dalam bulan Ramadhan menjadi momentum bagi masyarakat muslim untuk mengencangkan ibadah mereka. Salah satu ibadah yang selalu dilakukan pada momen sepuluh hari tersebut adalah berdiam diri di masjid dan melakukan berbagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kegiatan ini dinamakan dengan I’tikaf. Beberapa dekade terakhir, ada sebuah fenomena dimana masjid-masjid menyediakan fasilitas untuk para jamaah yang ingin beri’tikaf di dalam masjidnya. Bahkan ada beberapa masjid yang menyediakan lahan bagi jamaah I’tikaf untuk mendirikan tenda. Tidak hanya menyediakan fasilitas, namun juga pengurus masjid menyiapkan rundown kegiatan di dalamnya, termasuk menyediakan fasilitas santapan sahur dan berbuka. Bisa jadi, ini menjadi salah satu tren positif yang menunjukan meningkatnya antusiasme umat muslim Indonesia. Dalam kitab Fiqh Islam wa Adillatuhu karya Syaikh Wahbah Zuhaili, I’tikaf secara bahasa diartikan berdiam diri, menetap, atau membiasakan satu pekerjaan dengan konsisten. Adapun secara syariat, Imam Syafi’I mendefinisikan I’tikaf sebagai berdiam diri di masjid oleh seseorang dengan niat yang khusus. Adapun tujuan dari I’tikaf, menurut Syeikh Wahbah Zuhaili, untuk mensucikan hati dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Penyucian hati itu dilakukan dengan cara melepaskan diri dari segala kesibukan duniawi dengan beribadah. Dari penjelasan tersebut, kita bisa menemukan satu benang merah bahwa I’tikaf merupakan proses mengatur kembali hidup kita. Selama 11 bulan sebelum bulan Ramadhan, mungkin kita semua tergesa-gesa dengan segala keinginan kita yang bersifat duniawi. Kehidupan manusia modern, dikejar-kejar dengan target, dengan penuh ambisi. Semua hal tersebut seolah-olah harus tercapai, sehingga manusia modern di perkotaan khususnya, tidak memiliki waktu jeda untuk beristirahat. Bahkan terkadang, ada saja manusia yang merasa waktu 24 jam dalam satu hari itu kurang bagi mereka. Dengan disyariatkannya I’tikaf, manusia diajarkan untuk memanfaatkan jeda dalam hidupnya. Jeda tersebut kemudian digunakan untuk membangun keintiman antara dirinya dengan Tuhannya. Maka I’tikaf bukan sekedar berdiam diri di masjid, atau bahkan hanya menginap di dalam masjid, terlebih untuk sekedar mengikuti trend beragama. Lebih dari itu, I’tikaf merupakan upaya mengembalikan sifat fitrah manusia. Manusia yang sebelumnya dipenuhi dengan ambisi dan keinginan duniawi, harus mengistirahatkan dirinya, mendiamkan dirinya, menenangkan dirinya melalui ibadah-ibadah yang disyariatkan, agar ia bisa menjauh dari semua ambisi duniawi dan kembali mendekat kepada Allah sebagai fitrah manusia. Sebab pada fitrahnya, manusia adalah makhluk yang mengakui Dzat yang Maha Satu, serta memiliki ketergantungan terhadap Dzat yang Maha Satu tersebut. Maka tidak heran jika orang yang beri’tikaf lalu mendapatkan keutamaan lailatul qadr akan merasakan ‘kelahiran’ kembali dirinya ke titik fitrah dirinya sendiri. (Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,” (QS. Al-A’raf : 172) 120 Views
Menjemput Lailatul Qadr (Bagian 5) Tenangkan Dirimu dengan Zuhud
Dalam pengajaran tasawuf dikenal satu konsep berakhlak dengan akhlak Allah, Takhalluq bi Akhlaqillah. Sebuah konsep yang mengajarkan internalisasi sifat-sifat Allah dalam diri manusia, selain sifat Al-Mutakabbir. Nabi Muhammad SAW merupakan kekasih Allah, yang sebagaimana dijelaskan sebelumnya Akhlak beliau adalah Al-Qur’anul Karim. Pengisian kembali cawan hati kita yang kosong, setelah dibersihkan melalui taubat merupakan proses tahalli dalam konsep tasawuf. Hati yang telah bersih dari segala dosa, termasuk dosa hati, akan mudah mendapatkan cahaya kebaikan yang termanifestasi dalam akhlak-akhlak baik sebagaimana Rasulullah contohkan. Salah satu sifat Rasulullah yang perlu ditiru oleh setiap umatnya adalah sifat dermawan. Nabi Muhammad SAW merupakan sosok paling dermawan yang patut dicontoh. Salah satu kisah kedermawanan Nabi Muhammad dikisahkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Sahabat Anas RA Dari Anas رضي الله عنه mengisahkan: “Pada suatu hari ada seseorang yang datang menemui Rasulullah, lalu beliau memberinya hadiah berupa kambing sebanyak satu lembah. Spontan lelaki itu berlari menemui kaumnya dan berkata kepada mereka: ‘Wahai kaumku, hendaknya kalian semua segera masuk Islam, karena sesungguhnya Muhammad memberi pemberian yang sangat besar, seakan ia tidak pernah takut akan kemiskinan”. (HR. Muslim) Pada hadits tersebut, tergambar jelas bahwa Nabi Muhammad tidak takut menjadi miskin. Sifat seperti ini tidak mungkin muncul dari seoang manusia yang hatinya masih dipenuhi dengan keinginan duniawi. Dalam istilah tasawuf kemudian dikenal dengan istilah zuhud. Satu istilah yang menggambarkan kondisi hati manusia yang merasa cukup dengan segala pemberian dari Allah SWT, sehingga tidak menempatkan dunia dalam hatinya. Karena hanya ridho Allah SWT yang ia harapkan. Orang yang dalam hatinya masih terdapat keinginan duniawi, akan diselimuti rasa khawatir kehilangan dunia dan kehidupannya. Padahal dalam kehidupan seorang muslim tidak ada yang lebih penting dan lebih agung dari keridhaan Allah SWT. Nabi Muhammad merupakan sosok yang sangat Zuhud dalam hidupnya. Banyak dikisahkan dalam beberapa riwayat, bagaimana Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin tertinggi umat Islam saat itu hidup tanpa kemewahan. Pernah satu masa dimana Nabi Muhammad SAW mengganjal perutnya dengan batu, karena tidak ada bahan makanan yang dapat dimakan di rumahnya. Kejadian ini sampai membuat sayyidina Ali meneteskan air mata ketika mengetahui hal tersebut. Maka, umat muslim selayaknya tidak menempatkan apapun dalam hatinya kecuali rasa cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Cinta yang murni dan tulus, sehingga Allah SWT pasti membalasnya dengan keridhaan-Nya terhadap sang hamba. Dirinya dipenuhi dengan keridhoan dari Allah SWT. akan menjadi tenang dalam kondisi apapun, sebab ia tahu Allah SWT. tidak pernah mengingkari janjinya. Maka balasannya tidak lain adalah surga, seperti yang Allah SWT jelaskan dalam sebuah ayat di Al-Quran. Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai. Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. dan masuklah ke dalam surga-Ku!(QS. AlFajr : 27-30) 101 Views
Menjemput Lailatul Qadr (Bagian 4) Kembali Pada Sunnah yang Sesungguhnya
Dosa yang dimengerti oleh sebagian umat manusia hanyalah dosa yang berkaitan dengan pelanggaran syariat yang telah ditetapkan. Adapun syariat yang dimengerti oleh kebanyakan masyarakat muslim kita adalah segala ritual keagamaan yang telah ditetapkan menjadi ibadah jawarih, ritual badaniah. Ada dosa yang lebih besar dampaknya bagi hati manusia, yaitu dosa hati. Dosa hati sering dilakukan oleh umat manusia secara tidak sadar. Beberapa dosa hati mungkin selalu kita lakukan antara lain riya’, iri, dengki, dendam, ujub, sombong, dan lain sebagainya. Bertaubat seperti yang diulas dalam tulisan sebelumnya, bukan membersihkan dari dosa jasmaniah yang sudah pasti kita lakukan. Melainkan juga membersihkan diri dari dosa hati yang membelenggu hati manusia. Lailatul Qadar yang hanya ada di bulan Ramadhan mengajarkan kita untuk membersihkan diri dari dosa jasmaniah dan dosa hati, itulah sebabnya doa yang disunnahkan ketika kita beri’tikaf adalah permohonan ampun kepada Allah SWT. Setelah manusia dapat mengosongkan hatinya dari dosa hati, langkah berikutnya untuk dapat merengkuh manisnya lailatul qadar adalah mengisi hati dengan kebaikan-kebaikan. Paling tidak, dengan tidak membiarkan kembali dosa hati tersebut menjangkiti hati manusia. Hati yang sudah kosong, dari segala dosa hati, hendaknya diisi dengan perangai-perangai baik yang mana perangai tersebut ada dalam diri Rasulullah SAW. “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21) Penjelasan dari ayat di atas kemudian dapat kita temukan dari hadits yang diriwayatkan dari Siti Aisyah RA. Aku berkata, ‘Wahai Ummul Mukminin, beritahulah aku tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam!” Aisyah bertanya, ‘Bukankah engkau membaca Al-Qur’an?” Aku menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Sesungguhnya akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Al-Qur’an.” Kemudian aku hendak berdiri dan tidak bertanya kepada siapapun tentang apapun hingga aku mati…” (HR. Muslim, no. 746). Para ulama kemudian memaknai hadits tersebut dengan mengatakan akhlak terbaik yang patut kita lakukan adalah dengan mengamalkan kandungan isi Al-Qur’an, karena Rasulullah melakukan itu semua. Jika pada tulisan sebelumnya kita pernah membahas tentang mulianya memaafkan, maka kita dengan mudah dapat mengetahui bahwa Rasulullah SAW merupakan manusia yang paling lapang dadanya untuk memaafkan kesalahan orang lain. Bahkan untuk orang-orang yang pernah mencederainya secara fisik, atau menghinanya dengan hinaan yang sangat tidak pantas Al-Quran pun mengajarkan manusia untuk selalu bersyukur atas segala nikmat dan karunia Allah SWT. Maka Rasulullah merupakan orang yang paling tahu bagaimana caranya bersyukur. Beliau mensyukuri nikmat Allah SWT dalam setiap sujudnya. Bahkan hingga bengkak kakinya. Hal ini digambarkan pula dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sayidah Aisyah RA. Dari Mughirah bin Syu’bah, bahwasannya Nabi saw. melaksanakan shalat hingga kedua mata kakinya bengkak. Lalu dikatakan kepadanya, “Mengapa engkau membebani dirimu, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab, “Bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?.” (HR. Muslim). Begitulah sifat sholat Nabi, tidak lagi memikirkan dirinya untuk masuk surga. Tapi memikirkan Tuhannya sebagai satu-satunya Dzat yang paling pantas disembah. Lalu banyak lagi, sifat terpuji lain dalam diri Nabi yang harus kita tiru. Bahkan Allah menyanjung sifat Nabi dalam surat Al-Qadalm ayat 4 : “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Maka bagi siapapun yang mengaku mencintai Nabi Muhammad SAW, meniru segala akhlak baiknya adalah langkah pertama yang harus dilakukan. Bukan hanya sekedar meniru cara berpakaian, berpenampilan, atau cara makan beliau. Dengan memahami hal ini, maka merengkuh keutamaan lailatul Qadr bukanlah hal yang mustahil bagi setiap umat muslim pada malam-malam ganjil di bulan Ramadhan. 84 Views
Menjemput Lailatul Qadr (Bagian 3) Cintailah Dirimu dengan Cara Bertaubat
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah : 222) Ayat di atas merupakan penggalan ayat dalam Al-Quran yang menjelaskan bagaimana Allah SWT. menunjukan kasih sayang-Nya. Allah SWT merupakan Dzat yang Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi. Bukti dari kasih sayang-Nya adalah kehidupan manusia itu sendiri. Allah SWT tidak pernah tebang pilih dalam memberikan kehidupan kepada semua makhluknya, baik yang beriman kepada-Nya ataupun yang tidak beriman. Oksigen yang menjadi unsur kehidupan biologis manusia, dan menjadi bukti sahih dari Kasih Sayang Allah SWT. Setiap orang yang beriman tidak mungkin tidak mau mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT. Ketika seorang mukmin mendapatkan kasih sayang itu, ia sudah mendapatkan privilege dari Allah Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Berdasarkan ayat di atas, salah satu pintu untuk mendapatkan Kasih Sayang itu adalah dengan bertaubat kepada-Nya dari segala kesalahan dan dosa yang telah diperbuat. Taubat merupakan pengakuan atas kehinaan diri karena telah mengkhianati janji kehambaannya atas Tuhan yang menciptakannya. Manusia dilahirkan seperti kertas kosong tanpa goresan apapun. Itulah yang disebut dengan fitrah manusia. Kemudian lingkungan tempat tinggal manusia yang membentuk dirinya, hingga mengotori janji kehambaannya atas Allah SWT. Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah juga, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: tidak ada seorang manusia yang terlahir kecuali dia terlahir atas fitrah (kesucian seperti tabula rasa, kertas yang belum ditulis apapun, masih putih). Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi. Bertaubat berarti kembali kepada titik awal saat manusia dilahirkan, bersih tanpa goresan kotoran apapun. Ketika manusia berusaha kembali pada titik awalnya, maka Allah SWT secara pasti akan menerima hal tersebut. Itulah sebabnya, Allah SWT sangat mencintai orang yang bertaubat seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 222 tadi. Bertaubat merupakan cara untuk mengosongkan cawan hati kita yang lama. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, manusia tidak mungkin terlepas dari dosa. Setiap dosa, akan menimbulkan satu titik hitam dalam hati manusia. Ketika hati manusia terlalu banyak bintik dosa, maka hatinya akan menghitam dan akan sulit sekali menerima cahaya Ketuhanan. Setiap dosa menjadi noda hitam bagi hati, dijelaskan oleh Nabi dalam sebuah haditsnya. “Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan bertaubat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa; niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu) Saat manusia bertaubat melalui kalimat istighfar, artinya ia sedang mengosongkan cawan hatinya dari noda hitam yang sudah menodai hatinya tersebut. Hati ibarat lentera bagi diri manusia. Lentera tersebut dilapisi oleh kaca terbaik pada lapisan paling luarnya. Ketika kaca tersebut kotor dengan noda, maka tidak akan berfungsi cahaya yang ada di dalamnya. Semakin kotor kaca dari lentera itu, maka semakin redup cahaya yang ditimbulkan. Taubat bisa diibaratkan proses pembersihan kotoran itu tadi sehingga cahaya Ketuhanan yang ada dalam diri manusia akan kembali bersinar dan menjadi penuntun bagi diri manusia. Maka bertaubat merupakan upaya mencintai diri sendiri, sehingga Allah SWT mencintai orang yang mensucikan dirinya. Oleh karena itu, sangat penting digaris bawahi, bertaubat bukan sekedar menyesali dosa masa lampau dan berjanji untuk kembali pada dosa tersebut. Melainkan upaya untuk mencintai diri sendiri agar dapat merengkuh cinta Sang Maha Cinta 77 Views
Menjemput Lailatul Qadr (Bagian 2) Pintu Pengampunan
Sepuluh hari terakhir merupakan masa di mana Allah SWT. memberikan jaminan ampunan dosa bagi umat muslim yang melaksanakan puasa dengan baik. Seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. “Siapa yang menghidupkan bulan Ramadhan (dengan puasa atau ibadah) dengan iman dan mengharap pahala dari Allah Swt. maka diampuni dosanya yang telah lalu, dan siapa yang menghidupkan (beribadah) malam lailatul qadar dengan iman dan mengharap pahala dari Allah subhanahu wata’ala maka diampuni dosanya yang telah lalu.” Rasa-rasanya tidak ada satu manusia pun, terutama manusia era sekarang, yang terlepas dari dosa. Dengan segala kompleksitas zaman, umat manusia saat ini sangat mudah melakukan dosa. Baik dosa besar maupun dosa kecil. Kepastian manusia melakukan dosa, sudah pernah dijelaskan oleh Rasulullah SAW. “Setiap anak Adam (manusia) pernah berbuat salah (dosa), dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat.” Secara eksplisit hadits tersebut menggambarkan sifat manusia yang pasti melakukan salah dan dosa. Maka dari itu, tidak layak bagi satu manusia manapun untuk merasa dirinya terbebas dari dosa. Sebaik-baiknya manusia bukanlah manusia yang tidak memiliki salah atau dosa. Namun sebaliknya, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang mau mengakui kesalahan mereka dan kembali ke jalan Allah SWT, bertaubat. Bahkan Allah melarang setiap muslim untuk merasa dirinya suci dari dosa. Seperti yang dijelaskan dalam Surat An-Najm ayat 32. (Mereka adalah) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji. Akan tetapi, mereka (memang) melakukan dosa-dosa kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui dirimu sejak Dia menjadikanmu dari tanah dan ketika kamu masih berupa janin dalam perut ibumu. Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa. Untuk itu penting bagi setiap manusia untuk selalu merasa dirinya berdosa, agar tidak memunculkan dosa yang lebih besar yakni kesombongan. Orang yang memiliki sifat sombong akan melalaikan istighfar kepada Allah SWT. Padahal Istighfar sendiri merupakan salah satu bukti bahwa manusia membutuhkan Dzat yang Maha Pengampun, Allah SWT. Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (QS. Fathir : 15) Lailatul Qadr merupakan satu momen yang sangat baik bagi manusia untuk mengakui segala dosa-dosanya selama dia hidup. Pengakuan dosa tidak sekedar sebagai alat transaksi untuk mendapatkan tempat di surga. Melainkan sebuah kesadaran diri atas hinanya kita sebagai makhluk yang secara berani melanggar apa yang sudah ditentukan oleh penciptanya. Untuk itu, ada satu doa yang sangat dianjurkan untuk dizikirkan ketika kita melakukan I’tikaf pada 10 malam terakhir setiap bulan Ramadhan. “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.” 90 Views
Menjemput Lailatul Qadr (Bagian 1) Mengecilkan Diri, Mengagungkan Allah SWT
Kesombongan merupakan awal dari kehancuran manusia. Manusia yang sombong, merasa dirinya besar dan selainnya kecil. Bahkan kesombongan dapat membawa manusia pada kehancuran. Kehancuran paling fenomenal bisa kita simak kisahnya dalam Al-Qur’an adalah kisah Fir’aun yang sempat mengaku dirinya Tuhan. “Maka, dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya), lalu berseru (memanggil kaumnya).Dia berkata, “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.” Maka, Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan (siksaan) di dunia. (QS : An-Naziat : 23-25) Dengan kesombongan itu, Fir’aun ditenggelamkan oleh Allah SWT. Bukan hanya kehilangan kerajaannya, tapi dia kehilangan semua yang telah dia usahakan untuk bisa terus menjadi tiran di mesir kala itu. Sombong merupakan penyakit hati yang harus dihindari oleh setiap muslim. Sedikit saja ada kesombongan dalam hati setiap muslim, maka itu akan menjadi penghalang bagi setiap amal yang dikerjakannya. Hati yang dipenuhi dengan rasa sombong, merasa dirinya penting, tidak akan mendapatkan kenikmatan dekat dengan Allah SWT. Sebaiknya, orang yang rendah hati, tidak sombong, akan diberikan kenikmatan hati oleh Allah SWT. dengan diangkatnya status dirinya di sisi Allah SWT. “Tidak akan berkurang harta seseorang karena bersedekah, tidaklah Allah s.w.t. menambah terhadap seseorang yang mau memaafkan melainkan kemuliaan dan tidak ada seorangpun yang bersifat tawadhu’ (merendahkan hati) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya”. (HR. Muslim, No: 2588). Rendah hati dalam agama Islam dikenal dengan istilah Tawadhu’. Tawadhu’ merupakan salah satu akhlak mulia yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana Rasulullah mencontohkan langsung kepada sahabatnya. “Dari Anas r.a. sesungguhnya Rasulullah SAW melewati beberapa anak kecil, maka beliau mengucapkan salam pada mereka”. (HR Bukhari, No: 6247 dan Muslim, No: 2168). Sosok semulia dan seagung Rasulullah SAW saja mengucapkan salam kepada anak kecil yang beliau lewati. Orang yang memiliki sifat rendah hati akan disukai oleh banyak orang di lingkungan sekitarnya. Tidak mudah untuk memiliki sifat ini, karena seseorang harus menurunkan egonya untuk diakui oleh orang lain. Dalam diri orang yang rendah hati, tidak ada yang lain selain Allah SWT. Orang yang rendah hati segala apa yang dimilikinya, apa yang dicapainya, bisa terwujud karena Allah SWT mengizinkan hal tersebut dicapainya. Bahkan ibadah yang dilakukannya, ia sadari, merupakan pertolongan Allah SWT. kepadanya. Ia menyadari kelemahan dirinya, bahkan dia tidak memiliki daya dan upaya untuk melakukan ibada kepada Allah SWT. untuk itu ia membutuhkan pertolongan Allah SWT. Itulah hakikat seorang hamba, mengecilkan dirinya dan mengagungkan Tuhannya. Untuk mendapatkan keutaman malam 1000 bulan, seorang hamba harus memulainya dari ini. Mulai meniadakan diri, karena yang sejatinya ada hanyalah Dia. “… Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman”. (Q.S. Al-Hijr, 15: 88). 88 Views
Rasa Syukur Menentukan Keluasan Rizkimu
Rizki merupakan salah satu hal yang selalu diminta oleh manusia kepada Tuhannya. Rizki merupakan sesuatu yang pasti diberikan Allah SWT kepada setiap makhluknya, bukan hanya manusia. Hal ini sudah Allah SWT janjikan dalam surat Hud ayat 6. Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). Dalam redaksi ayat tersebut sangat jelas bahwa semua makhluk, termasuk hewan Allah SWT sudah menjamin rezekinya. Hanya saja, masih banyak manusia yang merasakan khawatir tidak mendapatkan apa yang sudah dijanjikan oleh Allah SWT. Tidak sulit bagi kita menemukan dalam kehidupan sehari-hari bagaimana upaya manusia untuk mendapatkan rezeki. Bahkan tidak jarang menghalalkan cara-cara kotor, dan kasar yang jelas diharamkan oleh syariat agama. Alangkah baiknya kita berfikir sejenak, mengapa hal tersebut bisa terjadi. Jangan-jangan selama ini kita salah memahami tentang konsep rizki. Mudah kita temukan pada kebanyakan manusia, yang mengira bahwa rizki hanya berupa uang dan harta benda lainnya yang mereka dapatkan dari usaha mereka. Seolah-oleh mereka lupa, hal terpenting dalam kehidupan manusia adalah bernapas. Karena sebanyak apapun harta yang kita miliki, jika kita tidak bernapas, tidak ada artinya rizki yang kita miliki. Lalu hal yang kita lupa, bagi umat muslim, nikmat besar yang sering lupt dari ingatan manusia adalah nikmat iman dan islam. Dalam penjelasannya terhadap Kitab Al-Hikam, KH. Sholeh Darat menjelaskan iman dan islam dalam diri kita merupakan bukti bahwa kita mendapatkan petunjuk Allah SWT. Masih dalam penjelasan bab yang sama, beliau menjelaskan bahwa manusia bisa beriman dan melaksanakan syarita Islam bukan karena kemampuannya. Melainkan karena kasih sayang Allah SWT. Sudut pandang yang sempit mengenai rizki yang dipahami sebagian besar manusia, membuat manusia sangat susah untuk bersyukur, seperti yang sudah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya. Rasa syukur yang kurang inilah yang membuat rasa penerimaan, kelapangan dada, manusia menjadi sempit. Karena tidak adanya rasa penerimaan, manusia tidak memiliki rasa kecukupan. Karena kurangnya rasa kecukupan inilah, manusia tidak pernah merasa puas dengan apa yang mereka miliki. Maka dalam kitab Al-Hikam, Imam Ibnu Athaillah mengatakan di antara bentuk kesempurnaan nikmat Allah kepadamu adalah jika Allah memberimu rezeki yang cukup dan menahan darimu apa yang dapat menyesatkanmu. Lalu, KH. Sholeh Darat menjelasknan kalam hikmah tersebut dengan mengutip sebuah hadits Nabi. Nabi Muhammad SAW bersabda, Bukannya kekayaan itu dengan banyaknya ahrta benda, akan tetapi kekayaan yang sesungguuhnya ialah kaya hati, jauh dari mencintai dunia. Sangat jelas dari redkasi hadits tersebut bahwa kekayaan yang sesungguhnya bukanlah kaya harta. Kaya tidak diukur dari sebanyak apa harta benda yang kita kumpulkan, melainkan dari seberapa lapang kita menerima apa yang Allah berikan. Maka, kaya yang sesungguhnya adalah kaya hati. 75 Views
Syukur, Pekerjaan yang Sulit Dilakukan Manusia
Ada satu ibadah yang tidak mudah untuk dilakukan oleh manusia. Ibadah tersebut, bukan ibadah anggota badan, ibadah jawarih, namun ibadah hati. Salah satu ibadah hati itu adalah bersyukur. Tidak banyak manusia yang mampu bersyukur atas apa yang diberikan Allah SWT kepadanya. Pada masa khalifah Umar Bin Khattab ada seorang sahabat yang berdoa “Ya Allah jadikanlah aku bagian dari orang-orang yang sedikti”. Mendengar ucapan itu, Sayidina Umar Bin Khattab bertanya pada sahabat tersebut, perihal sebab dia mengucapkan do’a itu. Lalu, sahabat tersebut menjawab “Aku pernah mendengar firman Allah SWT : sedikit di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.” Ayat Al-Qur’an yang dimaksud sahabat tersebut terdapat dalam surat Saba’ ayat 13. Hal yang bisa kita pelajari dari cerita di atas adalah, bersyukur bukanlah pekerjaan yang mudah bagi manusia. Sehingga, untuk melakukannya pun kita perlu meminta bantuan Allah SWT. agar hati kita mampu untuk terus bersyukur. Do’a memohon bantuan untuk bersyukur itu diajarkan oleh Nabi Sulaiman AS, Nabi yang terkenal sangat kaya. Do’a tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an surat An-Naml ayat 19. Dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku (ilham dan kemampuan) untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk tetap mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai. (Aku memohon pula) masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh. Sifat enggan bersyukur dari manusia sebenarnya sudah dijelaskan pula oleh Allah SWT. dalam Al-Qur’an. Manusia diciptakan dengan sifat dasar suka berkeluh kesah dan kikir. Dengan sifat itu, manusia kerap menganggap segala sesuatu yang mampu mereka raih merupakan hasil jerih payahnya, padahal tidak sedikitpun manusia memiliki kekuatan untuk meraih apa yang ia mau. Seperti yang digambarkan oleh Nabi Sulaiman AS dalam sura An-Naml di atas. Sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa keburukan (kesusahan), ia berkeluh kesah.Apabila mendapat kebaikan (harta), ia amat kikir (Qs. Al-Maarij 19-21) Namun, lanjutan dari ayat tersebut, Allah menjelaskan ada karakter manusia yang tidak seperti dijelaskan dalam surat Al-Maarij ayat 19-21. Mereka adalah orang-orang yang konsisten melaksanakan solat mereka. Kemudian mereka yang sadar bahwa pada harta mereka terdapat hak milik orang lain yang harus diberikan melalui skema zakat, infak dan sejenisnya. Jelas sudah bahwa bersyukur bukan perkara yang bisa dilakukan oleh semua orang. Syukur tidak cukup untuk diucapkan saja. Ucapan syukur perlu dibarengi dengan ketundukan hati, dan kesadaran penuh bahwa kita tidak memiliki apa-apa. Dengan rasa tersebut maka Allah SWT akan mengganjar orang yang bersyukur dengan melipat gandakan apa yang mereka miliki. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat” (QS. Ibrahim : 7) Maka bersyukur sejatinya menjadi pekerjaan yang wajib dilakukan oleh manusia sebagai hamba Allah SWT. Syukur yang dilakukan dengan syukur yang sebenar-benarnya. Sebab, senadainya manusia menghitung karunia Allah SWT. maka tidak akan pernah mereka sanggup menghitung rahmat dan rezeki yang Allah berikan pada mereka. “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya” (QS. An-Nahl : 18) 91 Views
Bersabar, Semua Ada Waktunya!
Dalam melaksanakan Ibadah Puasa, terutama di bulan Ramadhan, kita dituntut untuk selalu bersabar. Bukan hanya bersabar menunggu waktu berbuka puasa, namun juga bersabar atas segala sesuatu yang dapat membuat kita marah. Salah satu sebabnya adalah output dari ibadah puasa itu sendiri, menjadi orang yang bertakwa. Seperti yang sudah pernah dibahas sebelumnya, salah satu ciri orang yang bertakwa adalah mampu menahan amarah. Sabar memang bukan perkara yang mudah, namun dengan bersabar membuat kehidupan manusia menjadi lebih indah. Saking pentingnya rasa sabar, Allah SWT memerintahkan umat islam untuk meminta pertolongan terhadap sholat dan Sabar. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu (QS. Al-Baqarah : 45). Dalam sebuah mahfudzot, pepatah bahasa arab, sabar diibaratkan seperti buah shibr, namun dampaknya lebih manis dari madu. Buah shibr merupakan buah dengan rasa yang amat pahit. Perumpamaan ini menunjukan betapa tidak mudah untuk bersabar. Ketika kita berlatih untuk menjadi orang yang sabar, kita diibaratkan memakan buah yang amat pahit. Namun hasil akhir dari kepahitan bersabar adalah rasa manis yang tiada tara. Lebih manis daripada madu. Manusia diciptakan Allah dengan sifat yang tergesa-gesa. Hal ini dijelaskan Allah SWT dalam surat Al-Anbiya ayat 37, Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)-Ku. Maka janganlah kamu meminta Aku menyegerakannya. Dengan sifat bawaan seperti ini, sabar sudah pasti menjadi hal yang tidak pernah mudah untuk dilakukan oleh manusia. Ketergesa-gesaan manusia tidak jarang menjerumuskan manusia kepada buruk sangka kepada Allah SWT. Seolah Allah SWT tidak mendengarkan doa manusia, karena semua yang diharapkan dalam doa tidak dikabulkan dengan segera. Pada celah itulah setan menggunakan kesempatan supaya manusia berputus asa atas rahmat Allah SWT. Padahal, Allah SWT melarang hambaNya untuk berputus asa. Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah (QS. Yusuf : 87) Bersabarlah, segala sesuatu berjalan sesuai dengan waktunya. Tidak ada yang tergesa-gesa di alam semesta ini, selain kehendak manusia. Bulan tidak pernah mendahului matahari, bunga bermekaran pada musimnya, dan semua berjalan dengan ketentuannya. Semua makhluk Allah SWT bersabar menantikan waktu kapan peran mereka harus dimulai. Maka dari itu, sebagai makhluk paling mulia, hendaknya manusia bisa meniru perilaku alam semesta dalam menanti takdir Tuhan. Terutama, selama bulan Ramadhan ini. Tentang sikap sabar, Imam Ibnu Athailah dalam kitab Hikamnya memberikan satu Mutiara hikmah dari sekian untaian hikmah yang ia tulis. Janganlah keterlambatan masa pemberian Tuhan kepadamu, padahal engkau bersungguh-sungguh dalam berdoa, itu menyebabkan kamu patah harapan. Sebab Allah telah menjamin menerima semua doa dalam apa yang Ia kehendaki untukmu, bukan menurut kehendakmu, dan pada waktu yang ditentukan-Nya, bukan pada waktu yang engkau tentukan. 99 Views