Seperti yang sudah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya, Ramadhan adalah madrasah bagi manusia. Mereka yang mampu mengikuti pembelajaran dengan baik hingga akhir akan diwisuda dan bisa mendapatkan Raihan cumlaude dalam wisudanya. Raihan cumlaude itu dalam Al-Qur’an disebut dengan muttaqiin, orang-orang yang bertakwa. Tidak ada gelar tertinggi yang bisa diraih umat muslim selain gelar takwa itu sendiri. Takwa secara umum kemudian didefinisikan sebagai melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Namun, lebih jauh dari itu takwa memiliki makna yang lebih dalam. Saking pentingnya takwa, sampai Allah SWT berpesan dalam Al-Qur’an Bertakwalah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah engaku meninggal kecuali dalam keadaan muslim (QS. Ali Imron : 102) Tidak hanya itu, Allah SWT menjanjikan surga seluas langit dan bumi bagi mereka orang-orang yang bertakwa. Hal ini bisa dilihan dalam Al-Qur’an surat Ali Imron ayat 133. Lalu siapa saja mereka yang dianggap bertakwa menurut Al-Quran? Ada beberapa ayat yang menjelaskan ciri-ciri orang yang bertakwa Albaqarah ayat 3-4. Dalam ayat tersebut, secara ekspilist Allah SWT menggambarkan siapa saja yang dapat diakatakan bertakwa. Pada ayat ketiga, Allah SWT mengatakan, orang yang bertakwa adalah orang yang mengimani hal-hal ghaib dan melaksanakan sholat. Serta mereka yang menginfakan harta-harta mereka. Lalu pada ayat selanjtunya, Allah SWT melanjutkan, orang yang bertakwa adalah mereka yang mengimani kitab-kitab yang Allah SWT turunkan. Baik Al-Qur’an itu sendiri ataupun kitab-kitab suci yang turun sebelum Al-Qur’an Ali-Imran ayat 134-135. Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan ciri-ciri orang yang bertakwa adalah mereka yang menginfakan hartanya baik dalam keadaan lapang, ataupun dalam keadaan sulit. Lalu mereka juga dapat menahan amarah/emosi mereka, serta mudah memaafkan manusia. Selain itu, orang-orang yang bertakwa menurut ayat itu, ialah mereka yang apabila melakukan sebuah keburukan baik bagi diri merek sendiri ataupun bagi orang lain, mereka segera memohon ampun kepada Allah SWT yang Maha Pengampun. Kemudian mereka tidak melanjutkan atau mengulangi perbuatan buruk tersebut. Dari kedua ayat itu saja, sudah bisa kita lihat siapa yang pantas mendapatkan predikat cumlaude setelah menjalani Pendidikan di madrasah yang dinamakan Ramadhan. Berikutnya, akan kita ulas ciri-ciri orang bertakwa tersebut dalam tulisan selanjutnya. 31 Views
Madrasah itu Bernama Ramadhan
Bagi seorang muslim, akan ada satu bulan yang selalu dinanti-nantikan dalam satu tahun kalender. Kedatangannya bak oasis di tengah gersangnya gurun pasir. Bahkan di beberapa tempat di Indonesia, banyak tradisi yang dilakukan untuk menyambut datangnya bulan tersebut. Dialah bulan Ramadhan yang Allah tempatkan di dalamnya banyak kemuliaan. Kemuliaan Ramadhan tidak sekedar perihal waktu, tapi di dalamnya juga terdapat banyak peristiwa agung, salah satunya turunnya Al-Quran dari lauh Mahfudz ke langit bumi. Di dalamnya juga terdapat satu malam yang bila dibandingkan malam itu dengan malam lainnya dalam satu tahun, perbandingannya keutamaannya lebih dari 1000 bulan. Artinya, siapapun yang melakukan kebaikan saat malam itu tiba, ia dianggap melakukan kebaikan selama seribu bulan. Dialah mala lailatul qadr. Pada bulan Ramadhan pula, umat muslim di seluruh dunia, diwajibkan untuk menahan diri dari segala sesuatu yang bahkan dihalalkan sebelumnya. Makan dan minum dibatasi, hubungan suami-istri dibatasi, ibadah jawarih (jasmani) ditingkatkan. Ibadah hati semakin ditekanknan. Itulah esensi puasa (shaum) yang dilakukan oleh umat muslim di bulan yang penuh berkah ini. Jika mengacu pada makna katanya, shaum berarti imsak atau menahan. Menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan ibadah puasa itu sendiri. Baik yang membatalkan syariat dari puasa itu sendiri, ataupun yang membatalkan hakikat (esensi) dari ibadah puasa itu. Puasa menjadi sarana terbaik untuk melatih diri agar bisa membatasi keinginan, sekalipun hal yang diinginkan diperbolehkan oleh syariat agama. Manusia dengan segala perangkat kehidupannya dibekali berbagai Hasrat yang disebut dengan nafsu. Karena adanya nafsu, manusia bisa hidup. Manusia mungkin tidak ingin makan jika tidak diberikan nafsu makan. Manusia mungkin tidak akan bisa mempertahankan spesies mereka jika tidak dibekali nafsu seksual yang kemudian diatur dalam ikatan pernikahan. Perangkat hidup bernama nafsu itulah yang kemudian dikontrol selama satu bulan penuh, setelah 11 bulan sebelumnya manusia selalu memenuhi kebutuhan nafsunya. Kontrol atas nafsu ini menjadi penting bagi manusia, sebab jika pengontrolan ini tidak terjadi, manusia tidak ubahnya hewan yang hidup hanya berdasarkan insting mereka. Padahal, dengan perangkat hidup yang lebih lengkap, yang diberikan Allah SWT kepada manusia, derajat manusia lebih tinggi daripada hewan. Karena itulah Allah SWT menyebut manusia sebagai masterpiece penciptaan, ahsani taqwiim. Pada akhirnya, bulan Ramadhan dengan ibadah puasanya bagaikan sebuah madrasah yang di dalamnya belajar para murid yang dibimbing oleh para mursyid. Kita umat muslim yang menjalankan ibadah puasa adalah murid yang ada di dalam madrasah tersebut. Tuntunan syariat yang diajarkan melalui para guru di dalam madrasah, adalah mursyid bagi para murid. Layaknya di sebuah madrasah, seorang murid tidak hanya mengikuti pembelajaran. Namun juga akan diberikan ujian. Diberikan soal evaluasi untuk menentukan apakah murid tersebut layak menapaki pembelajaran selanjutnya atau tidak. Jika murid tersebut tidak layak untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya, maka dia harus tinggal kelas, mengulang untuk menamatkan pembelajaran yang ada. Itulah Ramadhan, madrasah bagi para umat muslim di seluruh dunia. Jika kita ingin dinyatakan lulus, dan berpredikat cumlaude, maka ikutilah setiap pembelajaran dengan baik. Agar kita, manusia, dapat kembali mencapai fitrah kita sebagai masterpiece Allah SWT. 79 Views
Jenis Orang yang Bisa Merusak Masyarakat
Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa qalam (pena) adalah makhluk yang Allah ciptakan setelah arsy (singgasana) Allah. Hal ini berkaitan dengan pentingnya ilmu bagi keberlangsungan kehidupan ini. Hal ini juga menguatkan maksud dan tujuan ayat pertama yang diterima Nabi Muhammad adalah iqra (bacalah). Kedua hal itu menjadi landasan bagi Nabi Muhammad SAW mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu, baik lelaki ataupun perempuan. Begitulah urgensi ilmu dalam ajaran Islam. Sebuah peradaban manusia tidak akan berkembang tanpa adanya ilmu pengetahuan. Dalam khazanah Islam, seseorang yang memiliki ilmu disebut sebagai Alim, kosa kata Bahasa Arab yang jika dirubah dalam bentuk plural menjadi ulama. Seseorang yang memiliki ilmu, Allah SWT menjamin derajatnya akan ditinggikan dalam kehidupan dunia apalagi akhirat. Tapi ternyata, tidak semua orang yang berilmu memiliki derajat yang agung. Dalam kitab Ta’limul Muta’allim karya Imam Azzarnujy, dituliskan sebuah syair milik Imam Ajal Burhanuddin. Syair tersebut jika diterjemahkan berbunyi demikian, Kerusakan besar (adalah) seorang alim yang tidak tahu malu Dan lebih besar lagi daripada itu seorang yang bodoh yang taklid Keduanya malapetaka yang besar di alam semesta Bagi siapa saja yang berpegang terhadap keduanya Dalam syair itu, disebutkan ada satu jenis orang alim yang akan membawa kerusakan, adalah alimun mutahattikun. Dalam syarh kitab ta’limul muta’allim karangan Syaikh Ibrahim bin Ismail, alimun mutahattikun digambarkan sebagai seorang yang berilmu namun melakukan pelanggaran-pelanggaran, terutamnya pelanggaran syariat. Tidak semata-mata melakukan pelanggaran-pelanggaran syariat, atau hal buruk lainnya, tapi juga mempertontonkannya di hadapan publik. Sehingga orang berilmu tersebut berpotensi menyesatkan orang lain, tidak hanya sesat bagi dirinya sendiri. Sementara seorang bodoh yang taklid, mengikuti secara membabi buta, berbahaya bagi kehidupan bermasyarakat, karena berpotensi mengikuti orang alim yang tidak tahu malu, tanpa ada penapisan (filter) atas apa yang dia terima. Itulah dua hal buruk yang akan merusak kehidupan bermasyarakat. Menjadi orang yang berilmu harus diimbangi dengan peningkatan ketakwaan, rasa malu, kerendahan hati, dan perubahan perilaku lainnya. Tidak cukup bagi seseorang hanya belajar banyak materi pembelajaran, tanpa mengetahui nilai moral yang terkandung di dalamnya. 428 Views
Rahasia Hidup Sehat Nabi Muhammad SAW
Dalam banyak buku sejarah, Nabi Muhammad SAW digambarkan sebagai sosok yang sangat sehat. Hanya ada dua momen beliau mengalami sakit, pertama ketika beliau ditakdirkan terkena sihir. Fenomena itulah yang kemudian menjadi sebab turunnya surat Al-Falaq. Kedua, menjelang kematian Nabi Muhammad SAW, beliau mengalami demam tinggi hingga akhirnya meninggal. Seperti itulah gambaran kesehatan Nabi Muhammad semasa hidupnya. Bahkan sebelum diangkat menjadi seorang Nabi, semua buku sejarah tidak menjelaskan apakah Nabi Muhammad SAW pernah sakit atau tidak. Sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, yang diceritakan dalam buku-buku sejarah kenabian, Nabi tidak pernah meminum arak (khamr) semasa muda. Sekalipun lingkungan mmasyarakat saat itu sangat dekat dengan tradisi minum khamr. Pernah diceritakan, Nabi Muhammad muda, sebelum diangkat menjadi Nabi dan rasul, diajak oleh teman-temannya untuk datang ke sebuah pesta. Tentu dalam pesta tersebut tersedia minuman keras, bahkan penari wanita. Tapi saat itu, Allah SWT membuat Nabi Muhammad mengantuk dan tertidur hingga pesta selesai. Artinya, sejak muda, Nabi Muhammad tidak hanya terjaga dari hal yang haram. Tapi juga terjaga dari hal-hal yang tidak menyehatkan. Seperti yang dimaklumi bersama, dalam kacamata medis, alkoholisme memberikan dampak buruk bagi kesehatan tubuh manusia. Salah satu penyakit yang dapat timbul adalah sirosis hepatis, atau secara sederhananya pengerasan hati. Selain karena dijaga oleh Allah SWT dari hal-hal yang buruk, Nabi Muhammad SAW memiliki kedisiplinan dalam pola makan. Inilah yang disinyalir kemudian, sebagai alasan Nabi Muhammad SAW hampir tidak pernah sakit semasa hidupnya. Beliau mengajarkan umatnya untuk makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Tentu, ajaran ini sudah beliau kerjakan sebelum diajarkan pada umatnya. Makan sebelum kita lapar, artinya tidak membuat lambung kita kosong. Sehingga menurunkan resiko terjadinya luka lambung yang dikenal maag. Ketika luka lambung semakin besar dan parah, maka bisa membuat asam lambung naik ke arah kerongkongan, dan menyebabkan panas di area dada, hingga sesak napas. Kondisi inilah yang dikenal masyarakat sebagai asam lambung naik, atau dalam istilah medis dikenal Gastroesophageal Reflux Desease (GERD). Ketika lambung terlalu penuh dengan air atau makanan, maka isi lambung akan menekan otot lambung sehingga menimbulkan penuh di perut. Jika isi lambung terlalu sering penuh, makanan yang ada dalam lambung akan memaksa gerbang atas lambung, sfingter esophageal, terbuka dan isi lambung akan naik ke arah kerongkongan. Jika hal ini terjadi terus menerus, gerbang atas lambung yang tersusun dari otot akan melemah, sehingga munculah penyakit dispepsia. Kondisi dimana seseorang tidak bisa menelan makanan. Itu adalah dua kondisi yang bisa dialami oleh seseorang ketika tidak mengamalkan ajaran Nabi Muhammad SAW, makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Tentu masih banyak lagi dampak kesehatan dari ajaran tersebut. Hanya saja tidak dapat dijelaskan dalam tulisan ini. Bagaimanpun juga, Nabi Muhammad SAW menjaga pola makannya sehingga beliau bisa ada dalam kondisi yang selalu sehat. 623 Views
SMK Kesehatan Bhakti Insani Raih Prestasi Gemilang! 5 Siswa Lolos PTN Jalur SNBP 2024
Depok, 26 Maret 2024 – Kabar membanggakan datang dari SMK Kesehatan Bhakti Insani. Sebanyak 5 siswa/i angkatan 2024 berhasil lolos dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2024 dan berhak melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ternama di Indonesia. Prestasi ini merupakan hasil kerja keras dan dedikasi yang tinggi dari seluruh civitas akademika SMK Kesehatan Bhakti Insani, baik guru, staf, maupun siswa/i. Sekolah terus berkomitmen untuk memberikan pendidikan berkualitas dan membekali siswa/i dengan berbagai keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk bersaing di era globalisasi. Berikut nama-nama siswa/i SMK Kesehatan Bhakti Insani yang diterima di PTN Jalur SNBP 2024: Aerlita Natasha – diterima di Universitas Indonesia jurusan Ilmu Keperawatan (S1)Alya Rahmawati – diterima di Universitas Indonesia jurusan Farmasi (S1)M. Fadlan Mufid – diterima di Negeri Media Kreatif jurusan Seni Kuliner (D3)Nurul Aeni – diterima di Universitas Singaperbangsa Karawang jurusan Farmasi (S1)Aisyah Aulia – diterima di UPN Veteren Jakarta jurusan Keperawatan (S1) “Kami sangat bangga atas prestasi yang diraih oleh siswa/i kami. Ini merupakan bukti nyata bahwa SMK Kesehatan Bhakti Insani mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berdaya saing tinggi,” ujar M. Azhar Ma’moen,S.Kom, Kepala SMK Kesehatan Bhakti Insani. Beliau menambahkan, “Prestasi ini juga menjadi motivasi bagi siswa/i lainnya untuk terus belajar dan meraih prestasi yang lebih tinggi. Kami berharap SMK Kesehatan Bhakti Insani dapat terus berkontribusi dalam melahirkan generasi muda yang cerdas, terampil, dan berkarakter mulia.” SMK Kesehatan Bhakti Insani, Membangun Generasi Muda yang Sehat dan Berprestasi! 348 Views