Jika output dari ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah ketakwaan, yang dicirikan dengan keimanan kita terhadap hal-hal yang ghaib. Maka kita harus kembali mengukuhkan keimanan kita terhadap keghaiban berbagai hal yang tidak mungkin untuk kita raih hanya bermodalkan panca indera saja.
Tidak bisa dipungkiri, saat ini kita hidup di zaman yang amat materialisitis dengan pendekatan empiric. Artinya, segala sestau yang tidak dapat dibuktikan materinya, maka keberadaannya pantas untuk diragukan. Bahayanya, jika pendekatan ini masuk secara tidak sadar ke dalam pemahaman kita dalam beragama. Ketika kita menganggap segala sesuatu yang tidak dapat kita buktikan dengan indera, dapat kita anggap sesuatu tersebut tidak ada.
Lebih celaka lagi, jika ada dan tidak ada hanya diasosiasikan dengan Sesutu yang dapat diindera dan tidak dapat diindera saja. Sebagai contoh, kita tidak menganggap satu benda ad ajika benda tersebut tidak dapat kita lihat, dan tidak dapat kit araba, atau kita dengar. Jika hal ini terjadi dalam pemahaman kita dalam menimplementasikan ajaran agama, maka akan rusak fondasi keimanan kita. Fondasi itu adalah akidah. Tidak heran jika pada beberapa penelitian menyebutkan bahaw Gen Z dan generasi yang lebih muda kini semakin meninggalkan agama.
Ketika kita menemukan sesuatu yang tidak dapat diindera bukan berarti hal tersebut tidak ada. Permasalhannya bukanlah pada materi objek indera kita, tapi pada keterbatasan indera kita sebagai manusia. Anggap saja begini, sebelum dikembangkannya teknologi panggilan video, kita hanya bisa mengandalkan satu indera untuk mempercayai kebenaran satu berita.
Misalkan, saat itu, kita mendapat berita buruk terkait meninggalnya orang yang kita sayangi melalui saluran telepon. Sementara kita berada jauh dari lokasi kejadian. Saat itu, dengan suasana psikologi yang tidak menentu, kita tidak akan dapat melakukan verifikasi ulang apakah benar yang meninggal itu adalah orang yang kita sayangi atau bukan. Tapi kita akan mudah percaya hanya dengan mendengar kabar itu saja.
Berbeda dengan saat ini yang memungkinkan kita untuk melihat secara langsung kejadian nan jauh di sana hanya melalui layanan panggilan video. Lantas, apakah itu berarti kabar yang kita terima itu bohong. Apakah perbedaan media dalam menerima kabar bisa menentukan kepercayaan kita terhadap kabar tersebut? Tentu tidak, media hanya menguatkan saja kabar yang kita terima. Objek kabarnya masih sama, kabar meninggalnya orang yang kita sayangi.
Analogi kedua, yang selalu penulis pakai untuk membuktikan bahwa ghaib bukan berarti tidak ada adalah keberadaan oksigen. Hingga saat ini, tidak ada satu manusia pun yang mampu menangkap oksigen dengan tangannya. Tidak juga ada yang bisa melihat oksigen dengan matanya. Tapi semua manusia sepakat bahwa oksigen itu ada dan buktinya adalah kita yang dapat hidup hingga saat ini.
Kenapa tanda pertama orang yang bertakwa adalah mengimani keghaiban? Sebab Allah SWT tidak mungkin kita gapai dengan kemampuan indera kita yang terbatas. Tapi sesuatu yang tidak dapat kita raih dengan indera kita bukan berarti tidak ada. Karena bagi Allah SWT, ketiadaan adalah satu kemustahilan.
Begitulah kurang lebih ciri orang yang bertakwa dalam Al-Quran. Ketakwaan tidak bisa diraih dengan pendekatan materialistic. Karena itu, cara melatihnya adalah dengan menahan diri, bahkan dari segal sesuatu yang Allah SWT perbolehkan.
