Semua manusia memiliki harapan dalam hidupnya. Harapan-harapan itu kemudian dilambungkan dalam doa. Inilah yang selalu dilakukan oleh umat beragama terhadap Dzat yang Maha Kuasa. Dalam konteks muslim kita menyebutnya Allah SWT. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, disebutkan bahwa doa adalah inti dari ibadah. Ad-du’a mukhul ‘ibadah.
Hadits tersebut dijelaskan oleh para ulama, intisari dari semua ibadah, termasuk shalat adalah doa. Artinya, setiap ibadah kita merupakan sebuah pengharapan kepada Allah SWT. Namun lebih dari itu, doa memiliki makna yang lebih dalam. Dalam kitab Hikam, Imam Ibnu Athoillah menuliskan sebuah hikmah. Apa yang kau pinta, tidak akan tertahan selama engkau memintanya kepada Tuhan (Allah). Namun, apa yang kau pinta tidak mudah dicapai bila engkau mengandalkan diri sendiri.
Menurut KH. Sholeh Darat, yang menjelaskan kalam hikmah tersebut, doa merupakan bukti ketidak berdayaan manusia terhadap segala sesuatu yang diinginkannya. Baik itu keinginan duniawi ataupun keinginan ukhrawi. Ketika seseorang menyandarkan apa yang diinginkannya kepada dirinya sendiri maka keinginan tersebut tidak akan pernah berhasil. Adapun yang dimaksud dengan diri sendiri dalam penjelasan itu adalah kemampuan manusia itu sendiri, bahkan menyandarkannya pada logika dirinya sendiri.
Bagaimanapun, manusia merupakan makhluk yang sangat lemah. Seperti yang dijelaskan dalam Al-Quran, sesungguhnya manusia adalah (makhluk) yang zalim dan bodoh. Salah satu kebodohan manusia adalah menyandarkan semua hajatnya, kepada selain Allah SWT. termasuk pada kemampuan dan logikanya sendiri. Sementara, ketika manusia menyandarkan semua keinginannya kepada Allah SWT. maka akan dengan sangat mudah keinginan tersebut dicapainya.
Maka, doa pada hakikatnya adalah pengakuan kelemahan manusia. Ketika manusia berdoa, maka dia harus memasrahkan secara total segala sesuatunya pada Allah SWT. apapun tujuan dan maksudnya. Maka, jangan pernah sekalipun, seorang muslim meremehkan kekuatan doa. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Hakim disebutkan, doa merupakan senjata orang mukmin. Ketika seorang mukmin meragukan kekuatan doa, maka doa tersebut menjadi tumpul.
Allah SWT. sudah menjamin dalam Al-Quran bagi siapapun yang berdoa maka pasti Allah SWT mengabulkannya. Beberapa ayat yang menjelaskan bahwa Allah SWT menjamin do’a pasti terkabul antara lain
Qs. Al-Ghafir ayat 60
“Berdoalah padaKu, pasti akan Aku kabulkan”
Al-Baqarah ayat 186
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran”
Kedua ayat tersebut kemudian juga dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits yang dikutip oleh Syeikh Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya Nashoihul Ibad. Nabi Muhammad SAW bersabda, Allah SWT tidak memberikan kepada seseorang kecuali telah menyiapkan lima hal lainnya. Tidak diberikan kepada seseorang rasa syukur kecuali telah Allah siapkan tambahan (nikmat), tidak diberikan pada seseorang doa kecuali telah Allah siapkan pengabulannya, tidak diberikan kepada seseorang istighfar kecuali Allah telah menyiapkan baginya pengampunan, tidak diberikan pada seseorang taubat kecuali Allah SWT telah menyiapkan penerimaanya, tidak diberikan kepada seseorang sedekah kecuali Allah SWT telah menyiapkan penggantinya.
Artinya, dengan rentetan dalil tersebut, maka seharusnya tidak ada lagi keraguan pada diri kita terkait kekuatan doa. Selama bulan Ramadhan ini, perbanyaklah berdoa, karena Allah SWT sebagai Dzat yang Maha Pemurah akan sangat senang kepada hamba-Nya yang berdoa, karena doa adalah bukti hamba membutuhkan Tuhannya.
