Berita / Artikel

Nuzulul Qur’an, Momentum Mengembalikan Fungsi Al-Quran

Setiap bulan Ramadhan umat islam memperingati turunnya Al-Quran, nuzulul Quran, pada tanggal 17 Ramadhan. Ulama berpendapat pada tanggal tersebut merupakan turunnya ayat pertama kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira. Ayat yang pertama turun adalah perintah untuk membaca. Sebuah awal dari pintu gerbang keilmuan.

Sayangnya belum lama ini, Kemenag merilis sebuah studi yang mengatakan bahwa lebih dari 50 persen guru agama islam di Indonesia tidak fasih baca Quran. Lebih mengenaskan lagi, pada tahun 2017 lalu, pernah dirilis sebuah studi yang mengatakan angka buta huruf Al-Quran di Indonesia lebih dari 60 persen. Padahal seperti yang kita tahu dan selalu dibanggakan, Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak.

Miris memang melihat realita bahwa angka-angka itu terdapat di negara yang mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Islam. Lebih dari itu, jika kita mengikuti perkembangan PISA, sebuah Lembaga yang menilai kemampuan literasi, numerasi dan sains di puluhan negara di dunia, Indonesia rajin menempati posisi paling bontot dalam hal literasi. Disebutkan bahwa tidak banyak pelajar Indonesia yang menjadikan baca buku sebagai aktifitas harian mereka. Secara angka, hanya 1 dibanding 1000, artinya dari 1000 siswa hanya ada satu siswa yang menjadikan membaca sebagai kebiasaan mereka sehari-hari.

Jika kita kembali mengingat masa keemasan Islam pada abad ke-7 hingga abad ke-13. Kita akan disodori banyak ilmuwan dari kalangan muslim yang menguasai peradaban. Bahkan saat itu, umat Islam sangat disegani dunia di tengah masa kegelepan bangsa Eropa. Kita dengan mudah mengingat nama sekelas Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Ibnu Batutah, Al-Kindi, Ibnu Rusydi, hingga Al-Ghazali. Semuanya adalah ilmuwan-ilmuwan Muslim yang karyanya diakui oleh dunia hingga masa modern ini.

Dalam banyak referensi disebutkan bahwa diantara kebiasaan mereka adalah berdiskusi dan menghasilkan karya tulis. Seperti Al-Qanun fi Thib karya Ibnu Sina menjadi salah satu rujukan utama kedokteran modern saat ini. Proses lahirnya karya tentu tidak mungkin lahir dari isi kepala yang kosong. Tidak mungkin lahir dari nihilnya kebiasaan membaca pada diri ulama kit terdahulu. Sehingga kita dengan mudah memastikan, ilmuwan-ilmuwan muslim terdahulu hidup dengan kitab-kitab dan tradisi membaca yang kuat.

Mereka tidak hanya membaca dan menghayati isi Al-Quran, tapi juga mengamalkan apa yang ada di dalam Al-Quran. Terutama ayat pertama yang turun pada Nabi Muhammad SAW, Bacalah! Sayangnya tradisi ini seperti hilang dari kalangan umat muslim, sejak runtuhnya masa keemasan Islam, dan datangnya masa pencerahan peradaban barat yang disebut renaissance. Umat Islam terlena dengan peradaban yang dibawa oleh masyarakat barat, terjun ke dalam riuhnya gaya hidup modernisme. Sehingga terus ada di bawah bayang-bayang barat selama lebih dari 5 abad lamanya.

Umat Islam saat ini hanya bisa membangga-banggakan masa keemasan pendahulunya tanpa bisa mengembalikan masa keemasan itu lagi. Mungkin kita bangga ketika mendengar nama-nama ilmuwan seperti Ibnu Sina, namun hanya sampai situ yang kita bisa. Budaya membaca sendiri seperti bukan budaya masyarakat muslim saat ini. Padahal itulah perintah pertama, menurut pendapat umum, Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

Seharusnya, kita mulai sadar dengan hal ini. Al-Quran merupakan kitab suci yang teramat lengkap untuk dipelajari. Untuk itu, ia bisa membawa umat muslim terdahulu menuju kemajuan. Karena mereka membaca, menghayati, hingga mengamalkan isi Al-Quran. Sebab Al-Quran adalah petunjuk bagi umat manusia. Sayangnya, saat ini Al-Quran semakin ditinggalkan, bahkan oleh umat muslim itu sendiri. Hal tersebut bisa kita lihat dari angka awal yang menunjukan berapa pengajar agama yang mampu membaca Al-Quran dan berapa pula angka buta huruf Al-Quran.

Untuk itu, mari jadikan malam nuzulul quran sebagai momentum kita kembali kepada sumber petunjuk untuk umat manusia. Tidak hanya dirayakan dan diucapkan, tapi juga diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

92 Views

Imam Maula Fikri, S.Kep.

Content Writer

Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB)

Gelombang 2 dari 01 Januari s/d 31 Maret 2025

Kategori

Artikel Terbaru

  • All Posts
  • Alumni
  • Artikel
  • Fasilitas dan Prasarana
  • Kegiatan Siswa
  • Kerjasama Industri
  • Kurikulum & Pembelajaran
  • Pendidikan & Pelatihan
  • Prestasi & Penghargaan
  • Tips & Trick

Tags

Info Kontak

Temukan informasi lengkap tentang SMK Kesehatan Bhakti Insani di website kami! dan Ikuti kami di media sosial untuk mendapatkan berita terbaru tentang SMK Kesehatan Bhakti Insani!

Edit Template

Tentang Sekolah Kami

SMK Kesehatan Bhakti Insani Depok merupakan Sekolah Menengah Kejuruan Kesehatan yang berkomitmen untuk melahirkan generasi yang terampil dibidang kesehatan dan memiliki karakter yang kuat serta siap berkontribusi dimasyakarat

Copyright © 2026 | Made By Media Center DG-BI | All Rights Reserved