Berita / Artikel

Menjemput Lailatul Qadr (Bagian 6) Menjadi Orang yang Dicintai Allah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘slaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa yang menyakiti waliku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai selain apa yang Aku wajibkan baginya. Hamba-Ku senantiasa mendekat diri kepada-Ku dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku, pasti aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti aku lindungi.’” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6502]

Hadits di atas merupakan hadits yang masuk ke dalam 40 hadits pilihan dalam kitab hadits yang masyhur di kalangan umat muslim, Arbain Nawawi. Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al-Abbad Al-Badr dalam kitabnya Fathul Qowi Matiin, menjelaskan yang dimaksud dengan Wali Allah adalah mereka orang yang beriman dan bertaqwa.

Seperti yang kita mafhumi bersama, taqwa diartikan sebagai menjalankan segala perintah Allah SWT. dan menjauhi segala sesuatu yang dilarang Allah SWT. Adapun taqwa sendiri merupakan output dari ibadah puasa di bulan Ramadhan seperti yang pernah kita bahas pada artikel sebelumnya. Sejalan dengan kesepakatn ulama tentang definisi taqwa, dalam kitab Fathul Qowi Matin, pengarang pun menjelaskan tentang hal ini.

Predikat orang yang bertakwa hanya dapat dicapai dengan menjalankan segala sesuatu yang Allah SWT. wajibkan kepada orang yang beriman. Kewajiban-kewajiban itu akan membuat pelakunya semakin dekat dengan Allah SWT. karena Allah SWT mencintainya. Kecintaan Allah SWT. terhadap orang yang menjalankan kewajibannya terhadap Allah SWT. muncul karena mereka sejatinya tidak hanya melakukan perintah untuk menjalankan wajib. Namun juga menjauhi apa yang Allah SWT. Haramkan padanya.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, setiap maksiat akan menghasilkan titik hitam pada hati manusia, dan setiap yang Allah SWT. haramkan merupakan sebuah maksiat bagi jiwa dan raga orang beriman. Tidak hanya itu saja, orang yang istiqomah menjalankan kewajiban mereka terhadap Tuhannya, tidak hanya berarti menjauhi dirinya dari apa yang diharamkan. Tapi menumbuhkan cinta pada amalan lain yang secara hukum fiqhnya sunnah dalam amaliah hariannya.

Ketika seseorang sudah mengisi amaliah hariannya dengan kewajiban dan sunnahnya, maka akan muncul dalam hatinya rasa rindu kepada Sang Maha Cinta, Allah SWT. Sementara itu, Allah SWT. sudah berjanji bahwa setiap cinta hambanya akan dibalas dengan cinta-Nya pada si hamba.

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran : 31)

Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. (QS. Al-Baqarah : 152)

Dari kedua ayat itu jelas, bagaimana Allah SWT. membalas cinta hamba-Nya. Untuk mencapai cinta Allah SWT. maka kita harus mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW seperti yang diperintahkan dalam surat Ali Imran di atas. Juga seperti yang sudah dijelaskan dalam artikel sebelumnya, mengikuti sunnah Rasulullah SAW bukan hanya sekedar merubah tampilan dan merubah bahasa yang kita gunakan. Tapi merubah segala sesuatu secara menyeluruh, termasuk perangai dan akhlak Rasulullah SAW. Akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an, hatinya tidak ada sedikitpun rasa benci ataupun penyakit hati lain yang pasti menjangkiti hati manusia pada umumnya.

Momen lailatul Qadr, seharusnya membuat kita merenung untuk mengoreksi diri agar kita bisa mengikuti jejak Rasulullah SAW secara menyeluruh. Bukan hanya tentang tampilan fisik, namun juga isi hati. Karena akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an, maka hati beliau pasti sangat bersih dari segala kotoran-kotoran hati yang dapat merusak hubungan cinta antara Tuhan dan hambanya. Untuk itu, tidak ada gunanya jika kita merasa agung dengan segala amal perbuatan kita sementara hati kita tidak dipenuhi rasa cinta kepada-Nya dan pada kekasihnya.

(Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak.Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.Surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa. (QS. Asy-Syu’ara: 88-90)

166 Views

Imam Maula Fikri, S.Kep.

Content Writer

Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB)

Gelombang 2 dari 01 Januari s/d 31 Maret 2025

Kategori

Artikel Terbaru

  • All Posts
  • Alumni
  • Artikel
  • Fasilitas dan Prasarana
  • Kegiatan Siswa
  • Kerjasama Industri
  • Kurikulum & Pembelajaran
  • Pendidikan & Pelatihan
  • Prestasi & Penghargaan
  • Tips & Trick

Tags

Info Kontak

Temukan informasi lengkap tentang SMK Kesehatan Bhakti Insani di website kami! dan Ikuti kami di media sosial untuk mendapatkan berita terbaru tentang SMK Kesehatan Bhakti Insani!

Edit Template

Tentang Sekolah Kami

SMK Kesehatan Bhakti Insani Depok merupakan Sekolah Menengah Kejuruan Kesehatan yang berkomitmen untuk melahirkan generasi yang terampil dibidang kesehatan dan memiliki karakter yang kuat serta siap berkontribusi dimasyakarat

Copyright © 2026 | Made By Media Center DG-BI | All Rights Reserved