Berita / Artikel

Kendalikan Amarahmu!

Setelah kita membahas dua tanda yang ketakwaan yang disebut Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah dan Ali Imron. Tanda berikutnya dari orang yang bertakwa dalam kedua surat itu adalah kemampuan menahan atau mengendalikan amarah. Sebagai makhluk yang Allah SWT ciptakan lengkap, manusia dibekali perangkat hidup lainnya bernama emosi.

Emosi mengekspresikan apa yang jiwa manusia rasakan. Diantaranya adalah senang, sedih, kecewa, Bahagia, dan marah. Manusia normal mana pun akan merasakan marah jika ia dihadapkan dengan sesuatu yang ia anggap menjengkelkan. Rasa marah itu kemudian diekspresikan dengan banyak cara seperti memaki, berteriak, memukul, membanting atau merusak barang, dan berbagai macam hal negatif lainnya.

Dengan ekspresi itu, maka marah dikonotasikan negatif. Karena dengan marah, manusia memiliki daya rusak yang luar biasa. Untuk itu, Allah SWT melalui lisan Rasulnya, Nabi Muhammad SAW mengajarkan manusia untuk dapat mengendalikan amarah. Bahkan dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad bersabda, “seorang yang kuat bukanlah yang kuat bantingannya. Namun, mereka yang mampu menahan amarahnya”

Dalam hadits itu, Nabi Muhammad SAW seolah memberikan isyarat bahwa menahan amarah bukan sesuatu yang mudah. Diperlukan latihan terus-menerus supaya manusia bisa mengendalikan marah mereka. Bulan Ramadhan dengan ibadah puasanya, menjadi salah satu sarana yang tepat dalam melatih diri mengendalikan amarah.

Marah, secara syariat tidak membatalkan puasa. Tapi, menurut jumhur ulama, marah dapat mengurangi esensi dari puasa itu sendiri. Kita kembali ke pembahasan awal tentang makna puasa secara bahasa. Puasa diartikan al-imsak atau menahan. Kemampuan kita, umat muslim, untuk menahan amarah dan menjadi seorang yang penyabar diuji ketika kita melaksanakan ibadah puasa.

Jika kita marah dalam kondisi puasa, secara biologis, kita akan kehilangan energi. Karena marah meningkatkan kebutuhan metabolisme manusia. Itulah sebabnya, seorang yang marah akan merasa Lelah bahkan mungkin merasakan dahaga dan lapar. Secara psikospiritual, rasa marah menyembunyikan rasa sabar, yang seharusnya hadir di dalam diri manusia.

Ketika kita marah, artinya kita sedang memberi makan nafsu kita. Semakin sering kita mengikuti nafsu kita, maka semakin besar dia tumbuh. Hingga pada ujungnya nafsu tidak bisa kendalikan. Malah kitalah yang dikendalikan nafsu. Inilah mungkin alasan paling logis dari argumentasi yang mengatakan marah akan membatalkan puasa. Selain mengganggu kita secara biologis, ini juga akan mempengaruhi perkembangan psikospiritual kita.

Selama bulan Ramadhan, pada siang hari, umat muslim harus mampu menahan amarah mereka. Untuk itu, jika output dari ibadah puasa adalah ketakwaan, dan salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah menahan amarah, maka jelas bagi kita bahwa puasa adalah sarana pembelajaran untuk mengendalikan nafsu. Dengan sendirinya, kita akan mendapatkan kesimpulan bahwa salah satu tanda keberhasilan puasa kita adalah ketika kita semakin pandai mengendalikan emosi kita di hari-hari berikutnya selain bulan Ramadhan

132 Views

Imam Maula Fikri, S.Kep.

Content Writer

Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB)

Gelombang 2 dari 01 Januari s/d 31 Maret 2025

Kategori

Artikel Terbaru

  • All Posts
  • Alumni
  • Artikel
  • Fasilitas dan Prasarana
  • Kegiatan Siswa
  • Kerjasama Industri
  • Kurikulum & Pembelajaran
  • Pendidikan & Pelatihan
  • Prestasi & Penghargaan
  • Tips & Trick

Tags

Info Kontak

Temukan informasi lengkap tentang SMK Kesehatan Bhakti Insani di website kami! dan Ikuti kami di media sosial untuk mendapatkan berita terbaru tentang SMK Kesehatan Bhakti Insani!

Edit Template

Tentang Sekolah Kami

SMK Kesehatan Bhakti Insani Depok merupakan Sekolah Menengah Kejuruan Kesehatan yang berkomitmen untuk melahirkan generasi yang terampil dibidang kesehatan dan memiliki karakter yang kuat serta siap berkontribusi dimasyakarat

Copyright © 2026 | Made By Media Center DG-BI | All Rights Reserved