Tanda terakhir ketakwaan, yang menjadi indikator keberhasilan puasa, kita adalah kemampuan kita memberi maaf kepada orang lain. Penulis pernah berkontemplasi perihal ini. Mengapa Allah SWT menempatkan orang yang memberikan maaf dengan derajat yang teramat tinggi. Bahkan dijanjikan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Dari kontemplasi itu, penulis menemukan bahwa memaafkan bukanlah perkara yang mudah.
Ketika seseorang memutuskan untuk memaafkan dengan sepenuh hati, ada hal yang harus ia korbankan dalam dirinya untuk bisa melakukan itu. Hal tersebut adalah ego dirinya sendiri. Satu hal yang mungkin tidak mudah untuk ditaklukan oleh setiap orang, terutama manusia modern adalah ego. Ego sering membawa manusia kepada keterpurukan.
Mengutip istilah Imam Al-Ghazali, manusia empat sifat natural yang ia bawa sejak lahir. Dua diantaranya adalah sifat kebinatangan. Sifat kebinatangan ini oleh Imam Al-Ghazali dibagi menjadi dua yakni sifat bahimiyah dan sifat sabu’iyah. Sifat bahimiyah merupakan sifat yang dimiliki oleh manusia yang menyerupai binatang ternak. Sifat bahimiyah berfokus pada kesenangan antara perut dan kemaluan.
Layaknya hewan ternak, manusia dengan sifat bahimiyah cenderung untuk memuaskan nafsu yang berkaitan dengan makan, dan hubungan seksual. Manusia yang dominan dengan sifat ini akan cenderung rakus, malas, dan tamak. Lalu, sifat kebinatangan yang kedua adalah sifat sabu’iyah. Sesuai dengan Namanya, sifat ini menyerupai sifat hewan buas dalam diri manusia.
Hewan buas cenderung ingin menaklukan lawannya, tidak mau kalah. Secara alamiahnya, hewan buas selalu menjadi predator atas hewan lainnya, karena begitulah cara mereka bertahan hidup. Imam Al-Ghazali menggambarkan sifat ini terletak di area dada manusia, sama dengan sifat syaithoniyah. Jika sabu’iyah digambarkan dengan ingin menang sendiri, tidak mau kalah, ingin menaklukan orang lain, berbeda dengan sifat syaithoniyah.
Syaithoniyah yang memiliki arti sifat setan, lebih menggebu-gebu dalam emosi dan marah. Setan yang Allah SWT ciptakan dari api, memiliki sifat dasar api yang panas dan dapat membakar. Manusia yang lebih dominan dengan sifat syaithoniyah, akan mudah memiliki penyakit hati seperti iri, dengki, hasud, dan lain sebagianya. Manusia yang memiliki kedua sifat ini, sabu’iyah dan syaithoniah, tidak akan mudah memaafkan orang lain. Jangankan untuk memaafkan orang lain, sekedar meminta maaf atas kesalahannya saja tidak akan mampu. Karena dalam diri mereka ada rasa harus lebih dibandingkan dengan orang lain.
Sifat yang terakhir adalah sifat rububiyah, sifat ketuhanan yang berakar pada qolbun seseorang. Rububiyah berakar kata dari robbun yang berarti Tuhan. Manusia yang sudah berada di tataran ini, tidak lagi memikirkan dirinya sendiri. Kepuasannya tidak lagi soal makanan, nafsu seksual, atau tentang mengalahkan orang lain. Mereka akan menjalankan peran manusia yang sesungguhnya yakni khalifatullah fil ardhi, khalifah Allah di bumi. Dengan segala syariatnya, puasa mengajarkan itu untuk berjalan menuju tingkatan rububiyah ini.
Satu bulan penuh kita berpuasa di bulan Ramadhan, kita akan mudah merasakan empati, sebab kita tahu bagaimana rasanya menahan lapar selama satu hari. Kita juga tahu, bagaimana nyamannya jiwa kita ketika kita mampu mengatur emosi dalam diri kita. Pada akhirnya, kita akan memiliki sifat welas asih dalam diri kita. Itulah hikmah mendalam dari ibadah puasa, sebab seperti pernah dijelaskan sebelumnya, secara bahasa puasa berarti menahan diri. Bukan hanya dari yang dilarang, namun juga dari yang diperbolehkan oleh Allah SWT
