Sudah lama kita termakan dengan propaganda iklan yang mengatakan berbukalah dengan yang manis. Bahkan, ada sebagian orang yang menganggap, berbuka dengan yang manis adalah ajaran dari Nabi Muhammad SAW. Sejauh yang penulis tahu, adagium berbukalah dengan yang manis merupakan propaganda iklan sebuah produk minuman.
Sejatinya, berbuka yang benar adalah berbuka secukupnya saja. Jika adapun tata cara berbuka puasa yang baik menurut Nabi Muhammad SAW, hanya anjuran seperti dalam hadits berikut. “Dari Anas bin Malik RA, ia berkata, Rasulullah SAW berbuka puasa dengan beberapa kurma matang dan basah (ruthab) sebelum melaksanakan shalat. Kalau tidak ada kurma basah, maka Rasulullah SAW berbuka dengan kurma kering (tamr). Bila tidak ada kurma kering, beliau meminum beberapa teguk air.” (HR Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi)
Dalam hadits tersebut hanya dijelaskan jenis makanan terbaik untuk berbuka. Bukan menjelaskan makanan dengan cita rasa manis menjadi keharusan dalam berbuka puasa. Dengan persepsi makanan bercita rasa manis, terkadang kita salah dalam membatalkan puasa kita di waktu berbuka.
Jika kita menelaah hadits tersebut di atas, kita menemukan diksi, bahkan jika kita tidak menemukan kurma untuk berbuka, maka cukuplah membatalkan puasa dengan minum air putih beberapa teguk saja. Artinya, ketika Nabi Muhammad SAW membatalkan puasanya, Nabi Muhammad SAW hanya makan atau minum secukupnya. Tidak mesti makanan manis apalagi makanan mewah.
Dalam prakteknya di masyarakat kita, justru sebaliknya. Puasa sehari penuh seolah menjadi alasan untuk kita makan apa saja yang ingin kita makan ketika waktu berbuka tiba. Kebiasaan berbuka yang seperti ini justru berdampak buruk bagi kesehatan kita. Tidak jarang, bahkan membuat puasa kita menjadi ‘sia-sia’, karena kita tidak mendapatkan hakikat puasa itu sendiri.
Puasa yang hakikatnya adalah menahan diri, dan mendidik diri kita untuk tidak tunduk terhadap nafsu, pada akhirnya tidak tercapai akibat kebiasaan buruk yang kita lakukan saat berbuka puasa selama 30 hari penuh. Untuk itu tidak heran, jika Nabi Muhammad SAW dari awal sudah mewanti-wanti umatnya agar tidak merugi saat melaksanakan ibadah puasa. Orang-orang yang merugi itu, Nabi gambarkan dengan hadits “berapa banyak dari orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga”.
Tulisan ini tentu bukan melarang seseorang untuk tidak memakan makanan manis saat berbuka. Apalagi, menghukumi secara fiqh berbuka dengan makanan manis. Tulisan ini lebih ditekankan pada pentingnya esensi puasa itu sendiri. Jangan sampai karena ketidak pahaman kita, kita melakukan sesuatu yang sia-sia selama berpuasa. Akibatnya, puasa tidak merubah diri kita menjadi lebih baik. Sungguh sangat merugi, mereka yang melewati bulan Ramadhan tanpa mendapatkan apapun dari bulan Ramadhan itu sendiri.
