Berita / Artikel

Berpuasa Tidak Butuh Validasi

Ada satu hadits yang selalu disampaikan oleh penceramah agama dalam ceramah mereka ketika bulan Ramadhan tiba. Bunyi kutipan hadits tersebut adalah “…Allah berfirman, puasa itu milikku (untukku) dan aku sendiri yang akan mengganjarnya”. Puasa memang memiliki tempat khusus sebagai sebuah ibadah. Seperti yang dijelaskan dalam artikel sebelumnya, ibadah puasa merupakan ibadah vertikal, antara Tuhan dengan hamba-Nya, juga merupakan ibadah horizontal, berdampak pada kehidupan sosial.

Saat melaksanakan ibadah puasa, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa dia berpuasa atau tidak. Hanya dirinya dan Allah SWT yang tahu status puasanya. Seseorang mungkin melaksanakan sahur saat berpuasa, lalu dengan sengaja membatalkan ibadah puasanya di tengah hari dengan alasan yang tidak diperbolehkan. Lalu mengaku dirinya tetap berpuasa ketika bertemu dengan orang lain.

Perilaku ini, yang dalam istilah anak muda sekarang dinamakan mokel, kerap terjadi. Pelaku mokel seolah lupa bahwa Allah tetap mengetahui apa yang mereka lakukan. Maka sesungguhnya, puasa melatih kita untuk berlaku jujur saat ada yang memperhatikan kita ataupun tidak ada yang memperhatikan. Seorang yang sedang berpuasa tidak memerlukan pengakuan dari orang lain bahwa dirinya berpuasa. Sebab, ibadah puasa hanya antara dirinya dan Tuhannya.

Dengan pola seperti itu, manusia diajarkan untuk tidak haus validasi. Ada ataupun tidak yang menyaksikan, berbuat kebaikan adalah sebuah keharusan. Orang yang dengan tekun melaksanakan ibadah puasanya, harus bisa melatih diri untuk konsisten dengan kebaikannya. Terlebih jika orang tersebut sudah ada dalam masa akil baligh. Mungkin hal ini tidak berlaku untuk anak-anak kecil yang masih belajar berpuasa. Mereka membutuhkan dorongan motivasi agar  puasa mereka sempurna selama 30 hari.

Namun jika orang yang sudah berakal, akil baligh, masih membutuhkan motivasi tertentu untuk melaksanakan puasa, rasa-rasanya ada yang salah dengan cara pandangnya. Oleh karena itu, puasa secara tidak langsung melatih mental kita untuk tidak menjadi orang yang inferior. Orang dengan mental lemah, dan membutuhkan validasi atas apa yang mereka lakukan. Dengan berlatih untuk tidak haus validasi selama berpuasa, maka kita akan memiliki kesehatan mental yang stabil.

Kita tidak akan cemas ketika orang tidak tahu bahwa kita sudah melakukan sesuatu. Kita akan tetap melaksanakan apa yang harus kita laksanakan, sekalipun tidak ada orang yang tahu. Berbeda jika ternyata selama bulan puasa, dia menjadi pelaku mokel yang konsisten. Bisa jadi dalam kehidupan sehari-hari, dia hanya akan melakukan sesuatu yang harus dia lakukan hanya saat ada yang memperhatikan saja. Selebihnya, dia dengan mudah akan membuat alasan, bahkan pembenaran atas perbuatannya.

121 Views

Imam Maula Fikri, S.Kep.

Content Writer

Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB)

Gelombang 2 dari 01 Januari s/d 31 Maret 2025

Kategori

Artikel Terbaru

  • All Posts
  • Alumni
  • Artikel
  • Fasilitas dan Prasarana
  • Kegiatan Siswa
  • Kerjasama Industri
  • Kurikulum & Pembelajaran
  • Pendidikan & Pelatihan
  • Prestasi & Penghargaan
  • Tips & Trick

Tags

Info Kontak

Temukan informasi lengkap tentang SMK Kesehatan Bhakti Insani di website kami! dan Ikuti kami di media sosial untuk mendapatkan berita terbaru tentang SMK Kesehatan Bhakti Insani!

Edit Template

Tentang Sekolah Kami

SMK Kesehatan Bhakti Insani Depok merupakan Sekolah Menengah Kejuruan Kesehatan yang berkomitmen untuk melahirkan generasi yang terampil dibidang kesehatan dan memiliki karakter yang kuat serta siap berkontribusi dimasyakarat

Copyright © 2026 | Made By Media Center DG-BI | All Rights Reserved