Selama bulan Ramadhan, kita diajarkan untuk merasakan perihnya perut yang kosong. Ternyata, di balik syariat puasa sudah banyak manfaat yang dibahas secara ilmiah bagi manusia. Seperti yang sudah kita bahas dalam beberapa artikel sebelum ini, puasa dapat menjadi sarana detoksifikasi bagi tubuh biologis manusia. Selain itu, puasa juga dapat menajamkan kecerdasan intelektual manusia.
Ada fakta lain, ternyata perut yang kosong pun dapat mengasah hati manusia. Dalam kitab Nashoihul Ibad, Syekh Nawawi Al-bantani mengutip perkataan hikmah seorang sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud. Berkata Abdullah bin Mas’ud “ada empat kebiasaan yang menggelapkan hati. Perut yang kenyang berlebih, bergaul dengan orang-orang yang zalim, melupakan dosa masa lalu, dan Panjang angan-angan. Dan empat kebiasaan yang menjadi cahaya hati, perut yang lapar karena memelihara diri, berteman dengan orang-orang shalih, mengingat dosa masa lalu, dan pendek angan-angan.”
Dalam kitabnya, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan yang dimaksud dengan kenyang berlebihan adalah rasa kenyang yang melebihi batas apa yang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW, pernah menjelaskan bahwa perut manusia dibagi menjadi tiga bagian. Sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air, dan sepertiga untuk udara.
Tentu ada alasan yang sangat logis dari anjuran Nabi Muhammad SAW tersebut. Secara medis, ketika perut terlalu kenyang, isi lambung melebihi kapasitasnya, maka dia akan menekan diafragma. Dengan kondisi itu, maka seseorang akan kesulitan untuk bernafas. Pada kondisi itu, bisa dikatakan normal jika muncul rasa ngantuk karena adanya kekurangan suplai oksigen ke otak yang diakibatkan otot diafragma tidak bekerja dengan optimal. Otot diafragma yang bekerja tidak optimal artinya tarikan napas dan masukan oksigen tidak maksimal pula.
Kemudian, rasa lapar akan melatih manusia menghargai fakir miskin. Secara fiqh, pembahasan fakir dan miskin ini dibagi secara berbeda, namun secara umum fakir miskin adalah mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan harian mereka dari hasil usaha mereka sendiri. Seperti pernah dibahas sebelumnya, puasa mengajarkan kita untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang fakir dan miskin.
Masih menurut Imam Nawawi Al-Bantani, ketika kita berteman dengan orang fakir maka akan memunculkan rasa syukur dalam diri kita dan ridho terhadap ketentuan Allah SWT. terhadap kita. Sebaliknya, berteman dengan orang yang memiliki kekuasaan akan menumbuhkan kesombongan dan menghitamkan hati. Rasa syukur yang tumbuh dari apa yang kita rasakan terhadap apa yang dirasakan pula oleh orang fakir miskin, itulah yang disebut empati. Adapun empati, hanya akan tumbuh di dalam diri yang penuh dengan rasa peduli.
Dengan begitu, mengosongkan perut akan mengasah empati manusia. Mengasah rasa syukur manusia, sehingga hati akan dipenuhi dengan sifat-sifat yang baik dan mengikis keburukan dari penyakit hati.
