“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah : 222)
Ayat di atas merupakan penggalan ayat dalam Al-Quran yang menjelaskan bagaimana Allah SWT. menunjukan kasih sayang-Nya. Allah SWT merupakan Dzat yang Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi. Bukti dari kasih sayang-Nya adalah kehidupan manusia itu sendiri. Allah SWT tidak pernah tebang pilih dalam memberikan kehidupan kepada semua makhluknya, baik yang beriman kepada-Nya ataupun yang tidak beriman. Oksigen yang menjadi unsur kehidupan biologis manusia, dan menjadi bukti sahih dari Kasih Sayang Allah SWT.
Setiap orang yang beriman tidak mungkin tidak mau mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT. Ketika seorang mukmin mendapatkan kasih sayang itu, ia sudah mendapatkan privilege dari Allah Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Berdasarkan ayat di atas, salah satu pintu untuk mendapatkan Kasih Sayang itu adalah dengan bertaubat kepada-Nya dari segala kesalahan dan dosa yang telah diperbuat.
Taubat merupakan pengakuan atas kehinaan diri karena telah mengkhianati janji kehambaannya atas Tuhan yang menciptakannya. Manusia dilahirkan seperti kertas kosong tanpa goresan apapun. Itulah yang disebut dengan fitrah manusia. Kemudian lingkungan tempat tinggal manusia yang membentuk dirinya, hingga mengotori janji kehambaannya atas Allah SWT.
Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah juga, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: tidak ada seorang manusia yang terlahir kecuali dia terlahir atas fitrah (kesucian seperti tabula rasa, kertas yang belum ditulis apapun, masih putih). Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi.
Bertaubat berarti kembali kepada titik awal saat manusia dilahirkan, bersih tanpa goresan kotoran apapun. Ketika manusia berusaha kembali pada titik awalnya, maka Allah SWT secara pasti akan menerima hal tersebut. Itulah sebabnya, Allah SWT sangat mencintai orang yang bertaubat seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 222 tadi.
Bertaubat merupakan cara untuk mengosongkan cawan hati kita yang lama. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, manusia tidak mungkin terlepas dari dosa. Setiap dosa, akan menimbulkan satu titik hitam dalam hati manusia. Ketika hati manusia terlalu banyak bintik dosa, maka hatinya akan menghitam dan akan sulit sekali menerima cahaya Ketuhanan. Setiap dosa menjadi noda hitam bagi hati, dijelaskan oleh Nabi dalam sebuah haditsnya.
“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan bertaubat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa; niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu)
Saat manusia bertaubat melalui kalimat istighfar, artinya ia sedang mengosongkan cawan hatinya dari noda hitam yang sudah menodai hatinya tersebut. Hati ibarat lentera bagi diri manusia. Lentera tersebut dilapisi oleh kaca terbaik pada lapisan paling luarnya. Ketika kaca tersebut kotor dengan noda, maka tidak akan berfungsi cahaya yang ada di dalamnya. Semakin kotor kaca dari lentera itu, maka semakin redup cahaya yang ditimbulkan. Taubat bisa diibaratkan proses pembersihan kotoran itu tadi sehingga cahaya Ketuhanan yang ada dalam diri manusia akan kembali bersinar dan menjadi penuntun bagi diri manusia.
Maka bertaubat merupakan upaya mencintai diri sendiri, sehingga Allah SWT mencintai orang yang mensucikan dirinya. Oleh karena itu, sangat penting digaris bawahi, bertaubat bukan sekedar menyesali dosa masa lampau dan berjanji untuk kembali pada dosa tersebut. Melainkan upaya untuk mencintai diri sendiri agar dapat merengkuh cinta Sang Maha Cinta
