Dosa yang dimengerti oleh sebagian umat manusia hanyalah dosa yang berkaitan dengan pelanggaran syariat yang telah ditetapkan. Adapun syariat yang dimengerti oleh kebanyakan masyarakat muslim kita adalah segala ritual keagamaan yang telah ditetapkan menjadi ibadah jawarih, ritual badaniah. Ada dosa yang lebih besar dampaknya bagi hati manusia, yaitu dosa hati.
Dosa hati sering dilakukan oleh umat manusia secara tidak sadar. Beberapa dosa hati mungkin selalu kita lakukan antara lain riya’, iri, dengki, dendam, ujub, sombong, dan lain sebagainya. Bertaubat seperti yang diulas dalam tulisan sebelumnya, bukan membersihkan dari dosa jasmaniah yang sudah pasti kita lakukan. Melainkan juga membersihkan diri dari dosa hati yang membelenggu hati manusia. Lailatul Qadar yang hanya ada di bulan Ramadhan mengajarkan kita untuk membersihkan diri dari dosa jasmaniah dan dosa hati, itulah sebabnya doa yang disunnahkan ketika kita beri’tikaf adalah permohonan ampun kepada Allah SWT.
Setelah manusia dapat mengosongkan hatinya dari dosa hati, langkah berikutnya untuk dapat merengkuh manisnya lailatul qadar adalah mengisi hati dengan kebaikan-kebaikan. Paling tidak, dengan tidak membiarkan kembali dosa hati tersebut menjangkiti hati manusia. Hati yang sudah kosong, dari segala dosa hati, hendaknya diisi dengan perangai-perangai baik yang mana perangai tersebut ada dalam diri Rasulullah SAW.
“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21)
Penjelasan dari ayat di atas kemudian dapat kita temukan dari hadits yang diriwayatkan dari Siti Aisyah RA.
Aku berkata, ‘Wahai Ummul Mukminin, beritahulah aku tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam!” Aisyah bertanya, ‘Bukankah engkau membaca Al-Qur’an?” Aku menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Sesungguhnya akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Al-Qur’an.” Kemudian aku hendak berdiri dan tidak bertanya kepada siapapun tentang apapun hingga aku mati…” (HR. Muslim, no. 746).
Para ulama kemudian memaknai hadits tersebut dengan mengatakan akhlak terbaik yang patut kita lakukan adalah dengan mengamalkan kandungan isi Al-Qur’an, karena Rasulullah melakukan itu semua. Jika pada tulisan sebelumnya kita pernah membahas tentang mulianya memaafkan, maka kita dengan mudah dapat mengetahui bahwa Rasulullah SAW merupakan manusia yang paling lapang dadanya untuk memaafkan kesalahan orang lain. Bahkan untuk orang-orang yang pernah mencederainya secara fisik, atau menghinanya dengan hinaan yang sangat tidak pantas
Al-Quran pun mengajarkan manusia untuk selalu bersyukur atas segala nikmat dan karunia Allah SWT. Maka Rasulullah merupakan orang yang paling tahu bagaimana caranya bersyukur. Beliau mensyukuri nikmat Allah SWT dalam setiap sujudnya. Bahkan hingga bengkak kakinya. Hal ini digambarkan pula dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sayidah Aisyah RA.
Dari Mughirah bin Syu’bah, bahwasannya Nabi saw. melaksanakan shalat hingga kedua mata kakinya bengkak. Lalu dikatakan kepadanya, “Mengapa engkau membebani dirimu, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab, “Bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?.” (HR. Muslim).
Begitulah sifat sholat Nabi, tidak lagi memikirkan dirinya untuk masuk surga. Tapi memikirkan Tuhannya sebagai satu-satunya Dzat yang paling pantas disembah. Lalu banyak lagi, sifat terpuji lain dalam diri Nabi yang harus kita tiru. Bahkan Allah menyanjung sifat Nabi dalam surat Al-Qadalm ayat 4 :
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Maka bagi siapapun yang mengaku mencintai Nabi Muhammad SAW, meniru segala akhlak baiknya adalah langkah pertama yang harus dilakukan. Bukan hanya sekedar meniru cara berpakaian, berpenampilan, atau cara makan beliau. Dengan memahami hal ini, maka merengkuh keutamaan lailatul Qadr bukanlah hal yang mustahil bagi setiap umat muslim pada malam-malam ganjil di bulan Ramadhan.
