Kesombongan merupakan awal dari kehancuran manusia. Manusia yang sombong, merasa dirinya besar dan selainnya kecil. Bahkan kesombongan dapat membawa manusia pada kehancuran. Kehancuran paling fenomenal bisa kita simak kisahnya dalam Al-Qur’an adalah kisah Fir’aun yang sempat mengaku dirinya Tuhan.
“Maka, dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya), lalu berseru (memanggil kaumnya).Dia berkata, “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.” Maka, Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan (siksaan) di dunia. (QS : An-Naziat : 23-25)
Dengan kesombongan itu, Fir’aun ditenggelamkan oleh Allah SWT. Bukan hanya kehilangan kerajaannya, tapi dia kehilangan semua yang telah dia usahakan untuk bisa terus menjadi tiran di mesir kala itu. Sombong merupakan penyakit hati yang harus dihindari oleh setiap muslim. Sedikit saja ada kesombongan dalam hati setiap muslim, maka itu akan menjadi penghalang bagi setiap amal yang dikerjakannya.
Hati yang dipenuhi dengan rasa sombong, merasa dirinya penting, tidak akan mendapatkan kenikmatan dekat dengan Allah SWT. Sebaiknya, orang yang rendah hati, tidak sombong, akan diberikan kenikmatan hati oleh Allah SWT. dengan diangkatnya status dirinya di sisi Allah SWT.
“Tidak akan berkurang harta seseorang karena bersedekah, tidaklah Allah s.w.t. menambah terhadap seseorang yang mau memaafkan melainkan kemuliaan dan tidak ada seorangpun yang bersifat tawadhu’ (merendahkan hati) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya”. (HR. Muslim, No: 2588).
Rendah hati dalam agama Islam dikenal dengan istilah Tawadhu’. Tawadhu’ merupakan salah satu akhlak mulia yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana Rasulullah mencontohkan langsung kepada sahabatnya.
“Dari Anas r.a. sesungguhnya Rasulullah SAW melewati beberapa anak kecil, maka beliau mengucapkan salam pada mereka”. (HR Bukhari, No: 6247 dan Muslim, No: 2168).
Sosok semulia dan seagung Rasulullah SAW saja mengucapkan salam kepada anak kecil yang beliau lewati. Orang yang memiliki sifat rendah hati akan disukai oleh banyak orang di lingkungan sekitarnya. Tidak mudah untuk memiliki sifat ini, karena seseorang harus menurunkan egonya untuk diakui oleh orang lain. Dalam diri orang yang rendah hati, tidak ada yang lain selain Allah SWT.
Orang yang rendah hati segala apa yang dimilikinya, apa yang dicapainya, bisa terwujud karena Allah SWT mengizinkan hal tersebut dicapainya. Bahkan ibadah yang dilakukannya, ia sadari, merupakan pertolongan Allah SWT. kepadanya. Ia menyadari kelemahan dirinya, bahkan dia tidak memiliki daya dan upaya untuk melakukan ibada kepada Allah SWT. untuk itu ia membutuhkan pertolongan Allah SWT.
Itulah hakikat seorang hamba, mengecilkan dirinya dan mengagungkan Tuhannya. Untuk mendapatkan keutaman malam 1000 bulan, seorang hamba harus memulainya dari ini. Mulai meniadakan diri, karena yang sejatinya ada hanyalah Dia.
“… Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman”. (Q.S. Al-Hijr, 15: 88).
