Ibadah puasa merupakan ibadah yang sangat spesial. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW berkata “Setiap amal baik Bani Adam dilipatgandakan sepuluh kali lipat hingga 700 kali lipat. Allah bersabda “kecuali puasa, maka sesungguhnya (puasa) adalah milikku dan aku yang akan mengganjarnya. Mereka (Bani Adam) meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena aku. Bagi seorang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu Tuhannya. Dan bau mulutnya orang berpuasa lebih wangi di sisi Allah dari wangi (minyak) misk” Dalam hadits itu, jelas sekali bagaimana Allah SWT membuat ibadah puasa menjadi spesial. Saat berpuasa seorang mengabaikan kesenangannya hanya untuk taat kepada Allah SWT. Pengabaian tersebut tidak hanya terjadi dalam waktu yang sesaat, tapi terjadi dalam satu hari penuh. Bahkan dalam hadits itu, disebutkan orang yang berpuasa meninggalkan syahwatnya. Syahwat termasuk hal yang paling sulit untuk ditinggalkan oleh manusia. Seperti penulis jelaskan dalam artikel sebelumnya, Imam Al-Ghazali menjelaskan, manusia memiliki empat sifat dalam dirinya. Sifat bahimiyah (hewan ternak), sifat sabu’iyah (hewan buas), sifat syaithoniyah (sifat setan), dan sifat rububiyah (sifat ketuhanan). Sifat bahimiyah, merupakan sifat yang dikekang secara syariat saat berpuasa. Hewan ternak tidak menjalani hidup mereka kecuali hanya untuk memenuhi kebutuhan perut dan kebutuhan seksual. Mereka tidak memiliki keinginan untuk menaklukan binatang lain. Kebutuhan akan makan dan kebutuhan seksual ini merupakan kebutuhan paling dasar dari hidup manusia. Jika digambarkan dalam ilmu psikologi modern, kita akan menemukan teori hirarki kebutuhan Abraham Maslow, yang menyebutkan kebutuhan makan dan seksual masuk ke dalam kebutuhan fisiologis, kebutuhan paling dasar. Kebutuhan makan, minum dan seksual menjadi kebutuhan paling dasar karena kebutuhan tersebut berkaitan langsung dengan eksistensi manusia. Makan dan minum menjadi aktifitas yang menjadi fondasi adanya kehidupan biologis manusia. Dengan adanya air dan nutrisi yang diterima oleh sel, setiap sel manusia dapat menghasilkan energi sehingga manusia dapat hidup sebagaimana mestinya. Sementara kebutuhan seksual berkaitan dengan eksistensi manusia sebagai makhluk hidup. Menurut teori evolusi, reproduksi merupakan cara makhluk hidup untuk mempertahankan spesiesnya. Keduanya, kebutuhan perut dan kebutuhan seksual sama-sama memberikan kenikmatan bagi manusia. Jadi, kedua kebutuhan tersebut bukan sekedar kebutuhan untuk mempertahankan hidup. Tapi juga menjadi tempat berkembangnya syahwat, yang dapat membuat manusia tergelincir. Tidak sedikit cerita yang dapat kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari, ataupun kita baca dalam Al-Quran, banyak manusia yang akhirnya hancur karena mengikuti syahwatnya. Ada manusia yang menjadi sangat rakus untuk memenuhi kebutuhan ini, juga ada yang menjadi lupa diri hanya untuk memenuhi fantasi kesenangan syahwat. Puasa, mengajarkan manusia untuk menahan hal tersebut. Mungkin itulah sebabnya, kenapa Allah SWT menjadikan ibadah puasa sangat spesial, karena manusia mengorbankan dirinya sendiri untuk ketaatan kepada Allah SWT. Terlebih, ibadah puasa dilakukan di satu waktu yang begitu spesial yaitu bulan Ramadhan. Bulan yang tidak hanya dilipatgandakan pahala di dalamnya, tapi begitu banyak peristiwa penting alam semesta ini terjadi pada bulan ini. 105 Views
Puasa Mengajarkan Welas Asih
Tanda terakhir ketakwaan, yang menjadi indikator keberhasilan puasa, kita adalah kemampuan kita memberi maaf kepada orang lain. Penulis pernah berkontemplasi perihal ini. Mengapa Allah SWT menempatkan orang yang memberikan maaf dengan derajat yang teramat tinggi. Bahkan dijanjikan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Dari kontemplasi itu, penulis menemukan bahwa memaafkan bukanlah perkara yang mudah. Ketika seseorang memutuskan untuk memaafkan dengan sepenuh hati, ada hal yang harus ia korbankan dalam dirinya untuk bisa melakukan itu. Hal tersebut adalah ego dirinya sendiri. Satu hal yang mungkin tidak mudah untuk ditaklukan oleh setiap orang, terutama manusia modern adalah ego. Ego sering membawa manusia kepada keterpurukan. Mengutip istilah Imam Al-Ghazali, manusia empat sifat natural yang ia bawa sejak lahir. Dua diantaranya adalah sifat kebinatangan. Sifat kebinatangan ini oleh Imam Al-Ghazali dibagi menjadi dua yakni sifat bahimiyah dan sifat sabu’iyah. Sifat bahimiyah merupakan sifat yang dimiliki oleh manusia yang menyerupai binatang ternak. Sifat bahimiyah berfokus pada kesenangan antara perut dan kemaluan. Layaknya hewan ternak, manusia dengan sifat bahimiyah cenderung untuk memuaskan nafsu yang berkaitan dengan makan, dan hubungan seksual. Manusia yang dominan dengan sifat ini akan cenderung rakus, malas, dan tamak. Lalu, sifat kebinatangan yang kedua adalah sifat sabu’iyah. Sesuai dengan Namanya, sifat ini menyerupai sifat hewan buas dalam diri manusia. Hewan buas cenderung ingin menaklukan lawannya, tidak mau kalah. Secara alamiahnya, hewan buas selalu menjadi predator atas hewan lainnya, karena begitulah cara mereka bertahan hidup. Imam Al-Ghazali menggambarkan sifat ini terletak di area dada manusia, sama dengan sifat syaithoniyah. Jika sabu’iyah digambarkan dengan ingin menang sendiri, tidak mau kalah, ingin menaklukan orang lain, berbeda dengan sifat syaithoniyah. Syaithoniyah yang memiliki arti sifat setan, lebih menggebu-gebu dalam emosi dan marah. Setan yang Allah SWT ciptakan dari api, memiliki sifat dasar api yang panas dan dapat membakar. Manusia yang lebih dominan dengan sifat syaithoniyah, akan mudah memiliki penyakit hati seperti iri, dengki, hasud, dan lain sebagianya. Manusia yang memiliki kedua sifat ini, sabu’iyah dan syaithoniah, tidak akan mudah memaafkan orang lain. Jangankan untuk memaafkan orang lain, sekedar meminta maaf atas kesalahannya saja tidak akan mampu. Karena dalam diri mereka ada rasa harus lebih dibandingkan dengan orang lain. Sifat yang terakhir adalah sifat rububiyah, sifat ketuhanan yang berakar pada qolbun seseorang. Rububiyah berakar kata dari robbun yang berarti Tuhan. Manusia yang sudah berada di tataran ini, tidak lagi memikirkan dirinya sendiri. Kepuasannya tidak lagi soal makanan, nafsu seksual, atau tentang mengalahkan orang lain. Mereka akan menjalankan peran manusia yang sesungguhnya yakni khalifatullah fil ardhi, khalifah Allah di bumi. Dengan segala syariatnya, puasa mengajarkan itu untuk berjalan menuju tingkatan rububiyah ini. Satu bulan penuh kita berpuasa di bulan Ramadhan, kita akan mudah merasakan empati, sebab kita tahu bagaimana rasanya menahan lapar selama satu hari. Kita juga tahu, bagaimana nyamannya jiwa kita ketika kita mampu mengatur emosi dalam diri kita. Pada akhirnya, kita akan memiliki sifat welas asih dalam diri kita. Itulah hikmah mendalam dari ibadah puasa, sebab seperti pernah dijelaskan sebelumnya, secara bahasa puasa berarti menahan diri. Bukan hanya dari yang dilarang, namun juga dari yang diperbolehkan oleh Allah SWT 118 Views
Kendalikan Amarahmu!
Setelah kita membahas dua tanda yang ketakwaan yang disebut Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah dan Ali Imron. Tanda berikutnya dari orang yang bertakwa dalam kedua surat itu adalah kemampuan menahan atau mengendalikan amarah. Sebagai makhluk yang Allah SWT ciptakan lengkap, manusia dibekali perangkat hidup lainnya bernama emosi. Emosi mengekspresikan apa yang jiwa manusia rasakan. Diantaranya adalah senang, sedih, kecewa, Bahagia, dan marah. Manusia normal mana pun akan merasakan marah jika ia dihadapkan dengan sesuatu yang ia anggap menjengkelkan. Rasa marah itu kemudian diekspresikan dengan banyak cara seperti memaki, berteriak, memukul, membanting atau merusak barang, dan berbagai macam hal negatif lainnya. Dengan ekspresi itu, maka marah dikonotasikan negatif. Karena dengan marah, manusia memiliki daya rusak yang luar biasa. Untuk itu, Allah SWT melalui lisan Rasulnya, Nabi Muhammad SAW mengajarkan manusia untuk dapat mengendalikan amarah. Bahkan dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad bersabda, “seorang yang kuat bukanlah yang kuat bantingannya. Namun, mereka yang mampu menahan amarahnya” Dalam hadits itu, Nabi Muhammad SAW seolah memberikan isyarat bahwa menahan amarah bukan sesuatu yang mudah. Diperlukan latihan terus-menerus supaya manusia bisa mengendalikan marah mereka. Bulan Ramadhan dengan ibadah puasanya, menjadi salah satu sarana yang tepat dalam melatih diri mengendalikan amarah. Marah, secara syariat tidak membatalkan puasa. Tapi, menurut jumhur ulama, marah dapat mengurangi esensi dari puasa itu sendiri. Kita kembali ke pembahasan awal tentang makna puasa secara bahasa. Puasa diartikan al-imsak atau menahan. Kemampuan kita, umat muslim, untuk menahan amarah dan menjadi seorang yang penyabar diuji ketika kita melaksanakan ibadah puasa. Jika kita marah dalam kondisi puasa, secara biologis, kita akan kehilangan energi. Karena marah meningkatkan kebutuhan metabolisme manusia. Itulah sebabnya, seorang yang marah akan merasa Lelah bahkan mungkin merasakan dahaga dan lapar. Secara psikospiritual, rasa marah menyembunyikan rasa sabar, yang seharusnya hadir di dalam diri manusia. Ketika kita marah, artinya kita sedang memberi makan nafsu kita. Semakin sering kita mengikuti nafsu kita, maka semakin besar dia tumbuh. Hingga pada ujungnya nafsu tidak bisa kendalikan. Malah kitalah yang dikendalikan nafsu. Inilah mungkin alasan paling logis dari argumentasi yang mengatakan marah akan membatalkan puasa. Selain mengganggu kita secara biologis, ini juga akan mempengaruhi perkembangan psikospiritual kita. Selama bulan Ramadhan, pada siang hari, umat muslim harus mampu menahan amarah mereka. Untuk itu, jika output dari ibadah puasa adalah ketakwaan, dan salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah menahan amarah, maka jelas bagi kita bahwa puasa adalah sarana pembelajaran untuk mengendalikan nafsu. Dengan sendirinya, kita akan mendapatkan kesimpulan bahwa salah satu tanda keberhasilan puasa kita adalah ketika kita semakin pandai mengendalikan emosi kita di hari-hari berikutnya selain bulan Ramadhan 131 Views
Ada Dua Jenis Kesalehan Dalam Quran
Setelah kita membahas tentang ciri orang yang bertakwa dalam Al-Quran, yang mana takwa itu sendiri tanda utama dari berhasilnya kita melaksanakan ibadah selama bulan Ramadhan, selanjtunya kita akan membahas ciri lain dari orang yang bertakwa. Dalam kedua surat yang disebutkan sebelumnya, Al-Baqarah dan Ali Imron, ciri takwa berikutnya adalah mendirikan sholat dan menginfakan harta. Dalam banyak tempat di Al-Quran, dua ibadah ini selalu disandingkan. Dimana ada perintah untuk melaksanakan sholat, Allah SWT, selalu langsung memerintahkan orang yang sholat untuk melaksanakan zakat, atau infak. Bahkan keduanya menjadi rukun islam yang wajib untuk dilaksanakan oleh setiap muslim yang memenuhi syarat untuk melakukannya. Ada dua dimensi kesalehan yang dibangun dalam sebuah perintah tersebut. Dimensi pertama adalah kesalehan vertical. Kesalehan yang terbangun hanya antara Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat yang pantas untuk disembah dengan manusia sebagai makhluk yang dibebankan untuk menyembah kepada penciptanya. Sholat mengajarkan kita kepatuhan kepada Sang Maha Pencipta. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa sholat merupakan mi’rajnya orang mukmin. Ketika sedang sholat, seorang mukmin sedang membangun hubungan antara hamba dan Penciptanya. Ada kepasrahan total dalam ibadah sholat. Sesuatu yang mungkin tidak terjadi di luar sholat. Sebab manusia kerap kali merasa ia berkuasa atas dirinya sendiri. Karena manusia dibekali perangkat lain dalam hidupnya bernama ego. Dengan sholat ada hubungan yang kembali terbangun antara manusia dan Allah SWT. Itulah mengapa sholat akan membimbing manusia yang melaksanakannya pada kesalehan. Sebab dalam sholat ada kepasrahan total, kepercayaan total, dan pengakuan atas kelemahan diri serta pengagungan atas Allah SWT. Dengan sholat hubungan antara manusa dengan Allah SWT (Hablun minallah) menjadi semakin baik. Sementara itu, perintah yang disandingkan dengan sholat, dan menjadi ciri orang yang beriman adalah infak, atau mendermakan apa yang kita miliki kepada orang lain. Infak mengajarkan manusia untuk selalu ikhlas melepaskan. Manusia tidak boleh terus-terusan menggenggam dan menganggap apa yang ada di tangannya adalah miliknya. Sebab, dengan rasa seperti itu, manusia akan memiliki rasa takut terhadap kehilanga. Padahal, segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah fana, tidak kekal. Tidak hanya itu saja, infak juga mengajarkan manusia untuk bbisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Infak adalah ibadah yang diperintahkan Allah SWT yang sekaligus memiliki dampak sosial. Dengan kata lain, dengan infak, kita tidak hanya meperbaiki hubungan kita dengan Allah (Hablun Minallah) tapi juga memperbaiki hubungan sosial antar manusia (Hablun Minannas). Artinya, orang yang bertakwa adalah mereka yang memiliki dua kesalehan sekaligus. Kesalehan secara vertical (hablun minallah) dan kesalehan secara horizontal (hablun minannas). Ibadah puasa di bulan Ramadhan tidak hanya mengajarkan kita untuk ibada secara vertical, tapi juga harus mampu beribadah secara horizontal. Itulah mengapa di penghujung bulan Ramadhan kita diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah. Jika ini , zakat fitrah, tidak dilaksanakan maka puasa kita menjadi tidak sempurna. 84 Views
Tidak Terlihat Bukan Berarti Tidak Ada
Jika output dari ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah ketakwaan, yang dicirikan dengan keimanan kita terhadap hal-hal yang ghaib. Maka kita harus kembali mengukuhkan keimanan kita terhadap keghaiban berbagai hal yang tidak mungkin untuk kita raih hanya bermodalkan panca indera saja. Tidak bisa dipungkiri, saat ini kita hidup di zaman yang amat materialisitis dengan pendekatan empiric. Artinya, segala sestau yang tidak dapat dibuktikan materinya, maka keberadaannya pantas untuk diragukan. Bahayanya, jika pendekatan ini masuk secara tidak sadar ke dalam pemahaman kita dalam beragama. Ketika kita menganggap segala sesuatu yang tidak dapat kita buktikan dengan indera, dapat kita anggap sesuatu tersebut tidak ada. Lebih celaka lagi, jika ada dan tidak ada hanya diasosiasikan dengan Sesutu yang dapat diindera dan tidak dapat diindera saja. Sebagai contoh, kita tidak menganggap satu benda ad ajika benda tersebut tidak dapat kita lihat, dan tidak dapat kit araba, atau kita dengar. Jika hal ini terjadi dalam pemahaman kita dalam menimplementasikan ajaran agama, maka akan rusak fondasi keimanan kita. Fondasi itu adalah akidah. Tidak heran jika pada beberapa penelitian menyebutkan bahaw Gen Z dan generasi yang lebih muda kini semakin meninggalkan agama. Ketika kita menemukan sesuatu yang tidak dapat diindera bukan berarti hal tersebut tidak ada. Permasalhannya bukanlah pada materi objek indera kita, tapi pada keterbatasan indera kita sebagai manusia. Anggap saja begini, sebelum dikembangkannya teknologi panggilan video, kita hanya bisa mengandalkan satu indera untuk mempercayai kebenaran satu berita. Misalkan, saat itu, kita mendapat berita buruk terkait meninggalnya orang yang kita sayangi melalui saluran telepon. Sementara kita berada jauh dari lokasi kejadian. Saat itu, dengan suasana psikologi yang tidak menentu, kita tidak akan dapat melakukan verifikasi ulang apakah benar yang meninggal itu adalah orang yang kita sayangi atau bukan. Tapi kita akan mudah percaya hanya dengan mendengar kabar itu saja. Berbeda dengan saat ini yang memungkinkan kita untuk melihat secara langsung kejadian nan jauh di sana hanya melalui layanan panggilan video. Lantas, apakah itu berarti kabar yang kita terima itu bohong. Apakah perbedaan media dalam menerima kabar bisa menentukan kepercayaan kita terhadap kabar tersebut? Tentu tidak, media hanya menguatkan saja kabar yang kita terima. Objek kabarnya masih sama, kabar meninggalnya orang yang kita sayangi. Analogi kedua, yang selalu penulis pakai untuk membuktikan bahwa ghaib bukan berarti tidak ada adalah keberadaan oksigen. Hingga saat ini, tidak ada satu manusia pun yang mampu menangkap oksigen dengan tangannya. Tidak juga ada yang bisa melihat oksigen dengan matanya. Tapi semua manusia sepakat bahwa oksigen itu ada dan buktinya adalah kita yang dapat hidup hingga saat ini. Kenapa tanda pertama orang yang bertakwa adalah mengimani keghaiban? Sebab Allah SWT tidak mungkin kita gapai dengan kemampuan indera kita yang terbatas. Tapi sesuatu yang tidak dapat kita raih dengan indera kita bukan berarti tidak ada. Karena bagi Allah SWT, ketiadaan adalah satu kemustahilan. Begitulah kurang lebih ciri orang yang bertakwa dalam Al-Quran. Ketakwaan tidak bisa diraih dengan pendekatan materialistic. Karena itu, cara melatihnya adalah dengan menahan diri, bahkan dari segal sesuatu yang Allah SWT perbolehkan. 128 Views
Mereka yang Dinyatakan Cumlaude
Seperti yang sudah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya, Ramadhan adalah madrasah bagi manusia. Mereka yang mampu mengikuti pembelajaran dengan baik hingga akhir akan diwisuda dan bisa mendapatkan Raihan cumlaude dalam wisudanya. Raihan cumlaude itu dalam Al-Qur’an disebut dengan muttaqiin, orang-orang yang bertakwa. Tidak ada gelar tertinggi yang bisa diraih umat muslim selain gelar takwa itu sendiri. Takwa secara umum kemudian didefinisikan sebagai melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Namun, lebih jauh dari itu takwa memiliki makna yang lebih dalam. Saking pentingnya takwa, sampai Allah SWT berpesan dalam Al-Qur’an Bertakwalah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah engaku meninggal kecuali dalam keadaan muslim (QS. Ali Imron : 102) Tidak hanya itu, Allah SWT menjanjikan surga seluas langit dan bumi bagi mereka orang-orang yang bertakwa. Hal ini bisa dilihan dalam Al-Qur’an surat Ali Imron ayat 133. Lalu siapa saja mereka yang dianggap bertakwa menurut Al-Quran? Ada beberapa ayat yang menjelaskan ciri-ciri orang yang bertakwa Albaqarah ayat 3-4. Dalam ayat tersebut, secara ekspilist Allah SWT menggambarkan siapa saja yang dapat diakatakan bertakwa. Pada ayat ketiga, Allah SWT mengatakan, orang yang bertakwa adalah orang yang mengimani hal-hal ghaib dan melaksanakan sholat. Serta mereka yang menginfakan harta-harta mereka. Lalu pada ayat selanjtunya, Allah SWT melanjutkan, orang yang bertakwa adalah mereka yang mengimani kitab-kitab yang Allah SWT turunkan. Baik Al-Qur’an itu sendiri ataupun kitab-kitab suci yang turun sebelum Al-Qur’an Ali-Imran ayat 134-135. Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan ciri-ciri orang yang bertakwa adalah mereka yang menginfakan hartanya baik dalam keadaan lapang, ataupun dalam keadaan sulit. Lalu mereka juga dapat menahan amarah/emosi mereka, serta mudah memaafkan manusia. Selain itu, orang-orang yang bertakwa menurut ayat itu, ialah mereka yang apabila melakukan sebuah keburukan baik bagi diri merek sendiri ataupun bagi orang lain, mereka segera memohon ampun kepada Allah SWT yang Maha Pengampun. Kemudian mereka tidak melanjutkan atau mengulangi perbuatan buruk tersebut. Dari kedua ayat itu saja, sudah bisa kita lihat siapa yang pantas mendapatkan predikat cumlaude setelah menjalani Pendidikan di madrasah yang dinamakan Ramadhan. Berikutnya, akan kita ulas ciri-ciri orang bertakwa tersebut dalam tulisan selanjutnya. 137 Views
Madrasah itu Bernama Ramadhan
Bagi seorang muslim, akan ada satu bulan yang selalu dinanti-nantikan dalam satu tahun kalender. Kedatangannya bak oasis di tengah gersangnya gurun pasir. Bahkan di beberapa tempat di Indonesia, banyak tradisi yang dilakukan untuk menyambut datangnya bulan tersebut. Dialah bulan Ramadhan yang Allah tempatkan di dalamnya banyak kemuliaan. Kemuliaan Ramadhan tidak sekedar perihal waktu, tapi di dalamnya juga terdapat banyak peristiwa agung, salah satunya turunnya Al-Quran dari lauh Mahfudz ke langit bumi. Di dalamnya juga terdapat satu malam yang bila dibandingkan malam itu dengan malam lainnya dalam satu tahun, perbandingannya keutamaannya lebih dari 1000 bulan. Artinya, siapapun yang melakukan kebaikan saat malam itu tiba, ia dianggap melakukan kebaikan selama seribu bulan. Dialah mala lailatul qadr. Pada bulan Ramadhan pula, umat muslim di seluruh dunia, diwajibkan untuk menahan diri dari segala sesuatu yang bahkan dihalalkan sebelumnya. Makan dan minum dibatasi, hubungan suami-istri dibatasi, ibadah jawarih (jasmani) ditingkatkan. Ibadah hati semakin ditekanknan. Itulah esensi puasa (shaum) yang dilakukan oleh umat muslim di bulan yang penuh berkah ini. Jika mengacu pada makna katanya, shaum berarti imsak atau menahan. Menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan ibadah puasa itu sendiri. Baik yang membatalkan syariat dari puasa itu sendiri, ataupun yang membatalkan hakikat (esensi) dari ibadah puasa itu. Puasa menjadi sarana terbaik untuk melatih diri agar bisa membatasi keinginan, sekalipun hal yang diinginkan diperbolehkan oleh syariat agama. Manusia dengan segala perangkat kehidupannya dibekali berbagai Hasrat yang disebut dengan nafsu. Karena adanya nafsu, manusia bisa hidup. Manusia mungkin tidak ingin makan jika tidak diberikan nafsu makan. Manusia mungkin tidak akan bisa mempertahankan spesies mereka jika tidak dibekali nafsu seksual yang kemudian diatur dalam ikatan pernikahan. Perangkat hidup bernama nafsu itulah yang kemudian dikontrol selama satu bulan penuh, setelah 11 bulan sebelumnya manusia selalu memenuhi kebutuhan nafsunya. Kontrol atas nafsu ini menjadi penting bagi manusia, sebab jika pengontrolan ini tidak terjadi, manusia tidak ubahnya hewan yang hidup hanya berdasarkan insting mereka. Padahal, dengan perangkat hidup yang lebih lengkap, yang diberikan Allah SWT kepada manusia, derajat manusia lebih tinggi daripada hewan. Karena itulah Allah SWT menyebut manusia sebagai masterpiece penciptaan, ahsani taqwiim. Pada akhirnya, bulan Ramadhan dengan ibadah puasanya bagaikan sebuah madrasah yang di dalamnya belajar para murid yang dibimbing oleh para mursyid. Kita umat muslim yang menjalankan ibadah puasa adalah murid yang ada di dalam madrasah tersebut. Tuntunan syariat yang diajarkan melalui para guru di dalam madrasah, adalah mursyid bagi para murid. Layaknya di sebuah madrasah, seorang murid tidak hanya mengikuti pembelajaran. Namun juga akan diberikan ujian. Diberikan soal evaluasi untuk menentukan apakah murid tersebut layak menapaki pembelajaran selanjutnya atau tidak. Jika murid tersebut tidak layak untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya, maka dia harus tinggal kelas, mengulang untuk menamatkan pembelajaran yang ada. Itulah Ramadhan, madrasah bagi para umat muslim di seluruh dunia. Jika kita ingin dinyatakan lulus, dan berpredikat cumlaude, maka ikutilah setiap pembelajaran dengan baik. Agar kita, manusia, dapat kembali mencapai fitrah kita sebagai masterpiece Allah SWT. 166 Views
Jenis Orang yang Bisa Merusak Masyarakat
Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa qalam (pena) adalah makhluk yang Allah ciptakan setelah arsy (singgasana) Allah. Hal ini berkaitan dengan pentingnya ilmu bagi keberlangsungan kehidupan ini. Hal ini juga menguatkan maksud dan tujuan ayat pertama yang diterima Nabi Muhammad adalah iqra (bacalah). Kedua hal itu menjadi landasan bagi Nabi Muhammad SAW mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu, baik lelaki ataupun perempuan. Begitulah urgensi ilmu dalam ajaran Islam. Sebuah peradaban manusia tidak akan berkembang tanpa adanya ilmu pengetahuan. Dalam khazanah Islam, seseorang yang memiliki ilmu disebut sebagai Alim, kosa kata Bahasa Arab yang jika dirubah dalam bentuk plural menjadi ulama. Seseorang yang memiliki ilmu, Allah SWT menjamin derajatnya akan ditinggikan dalam kehidupan dunia apalagi akhirat. Tapi ternyata, tidak semua orang yang berilmu memiliki derajat yang agung. Dalam kitab Ta’limul Muta’allim karya Imam Azzarnujy, dituliskan sebuah syair milik Imam Ajal Burhanuddin. Syair tersebut jika diterjemahkan berbunyi demikian, Kerusakan besar (adalah) seorang alim yang tidak tahu malu Dan lebih besar lagi daripada itu seorang yang bodoh yang taklid Keduanya malapetaka yang besar di alam semesta Bagi siapa saja yang berpegang terhadap keduanya Dalam syair itu, disebutkan ada satu jenis orang alim yang akan membawa kerusakan, adalah alimun mutahattikun. Dalam syarh kitab ta’limul muta’allim karangan Syaikh Ibrahim bin Ismail, alimun mutahattikun digambarkan sebagai seorang yang berilmu namun melakukan pelanggaran-pelanggaran, terutamnya pelanggaran syariat. Tidak semata-mata melakukan pelanggaran-pelanggaran syariat, atau hal buruk lainnya, tapi juga mempertontonkannya di hadapan publik. Sehingga orang berilmu tersebut berpotensi menyesatkan orang lain, tidak hanya sesat bagi dirinya sendiri. Sementara seorang bodoh yang taklid, mengikuti secara membabi buta, berbahaya bagi kehidupan bermasyarakat, karena berpotensi mengikuti orang alim yang tidak tahu malu, tanpa ada penapisan (filter) atas apa yang dia terima. Itulah dua hal buruk yang akan merusak kehidupan bermasyarakat. Menjadi orang yang berilmu harus diimbangi dengan peningkatan ketakwaan, rasa malu, kerendahan hati, dan perubahan perilaku lainnya. Tidak cukup bagi seseorang hanya belajar banyak materi pembelajaran, tanpa mengetahui nilai moral yang terkandung di dalamnya. 536 Views
Rahasia Hidup Sehat Nabi Muhammad SAW
Dalam banyak buku sejarah, Nabi Muhammad SAW digambarkan sebagai sosok yang sangat sehat. Hanya ada dua momen beliau mengalami sakit, pertama ketika beliau ditakdirkan terkena sihir. Fenomena itulah yang kemudian menjadi sebab turunnya surat Al-Falaq. Kedua, menjelang kematian Nabi Muhammad SAW, beliau mengalami demam tinggi hingga akhirnya meninggal. Seperti itulah gambaran kesehatan Nabi Muhammad semasa hidupnya. Bahkan sebelum diangkat menjadi seorang Nabi, semua buku sejarah tidak menjelaskan apakah Nabi Muhammad SAW pernah sakit atau tidak. Sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, yang diceritakan dalam buku-buku sejarah kenabian, Nabi tidak pernah meminum arak (khamr) semasa muda. Sekalipun lingkungan mmasyarakat saat itu sangat dekat dengan tradisi minum khamr. Pernah diceritakan, Nabi Muhammad muda, sebelum diangkat menjadi Nabi dan rasul, diajak oleh teman-temannya untuk datang ke sebuah pesta. Tentu dalam pesta tersebut tersedia minuman keras, bahkan penari wanita. Tapi saat itu, Allah SWT membuat Nabi Muhammad mengantuk dan tertidur hingga pesta selesai. Artinya, sejak muda, Nabi Muhammad tidak hanya terjaga dari hal yang haram. Tapi juga terjaga dari hal-hal yang tidak menyehatkan. Seperti yang dimaklumi bersama, dalam kacamata medis, alkoholisme memberikan dampak buruk bagi kesehatan tubuh manusia. Salah satu penyakit yang dapat timbul adalah sirosis hepatis, atau secara sederhananya pengerasan hati. Selain karena dijaga oleh Allah SWT dari hal-hal yang buruk, Nabi Muhammad SAW memiliki kedisiplinan dalam pola makan. Inilah yang disinyalir kemudian, sebagai alasan Nabi Muhammad SAW hampir tidak pernah sakit semasa hidupnya. Beliau mengajarkan umatnya untuk makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Tentu, ajaran ini sudah beliau kerjakan sebelum diajarkan pada umatnya. Makan sebelum kita lapar, artinya tidak membuat lambung kita kosong. Sehingga menurunkan resiko terjadinya luka lambung yang dikenal maag. Ketika luka lambung semakin besar dan parah, maka bisa membuat asam lambung naik ke arah kerongkongan, dan menyebabkan panas di area dada, hingga sesak napas. Kondisi inilah yang dikenal masyarakat sebagai asam lambung naik, atau dalam istilah medis dikenal Gastroesophageal Reflux Desease (GERD). Ketika lambung terlalu penuh dengan air atau makanan, maka isi lambung akan menekan otot lambung sehingga menimbulkan penuh di perut. Jika isi lambung terlalu sering penuh, makanan yang ada dalam lambung akan memaksa gerbang atas lambung, sfingter esophageal, terbuka dan isi lambung akan naik ke arah kerongkongan. Jika hal ini terjadi terus menerus, gerbang atas lambung yang tersusun dari otot akan melemah, sehingga munculah penyakit dispepsia. Kondisi dimana seseorang tidak bisa menelan makanan. Itu adalah dua kondisi yang bisa dialami oleh seseorang ketika tidak mengamalkan ajaran Nabi Muhammad SAW, makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Tentu masih banyak lagi dampak kesehatan dari ajaran tersebut. Hanya saja tidak dapat dijelaskan dalam tulisan ini. Bagaimanpun juga, Nabi Muhammad SAW menjaga pola makannya sehingga beliau bisa ada dalam kondisi yang selalu sehat. 836 Views
SMK Kesehatan Bhakti Insani Raih Prestasi Gemilang! 5 Siswa Lolos PTN Jalur SNBP 2024
Depok, 26 Maret 2024 – Kabar membanggakan datang dari SMK Kesehatan Bhakti Insani. Sebanyak 5 siswa/i angkatan 2024 berhasil lolos dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2024 dan berhak melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ternama di Indonesia. Prestasi ini merupakan hasil kerja keras dan dedikasi yang tinggi dari seluruh civitas akademika SMK Kesehatan Bhakti Insani, baik guru, staf, maupun siswa/i. Sekolah terus berkomitmen untuk memberikan pendidikan berkualitas dan membekali siswa/i dengan berbagai keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk bersaing di era globalisasi. Berikut nama-nama siswa/i SMK Kesehatan Bhakti Insani yang diterima di PTN Jalur SNBP 2024: Aerlita Natasha – diterima di Universitas Indonesia jurusan Ilmu Keperawatan (S1)Alya Rahmawati – diterima di Universitas Indonesia jurusan Farmasi (S1)M. Fadlan Mufid – diterima di Negeri Media Kreatif jurusan Seni Kuliner (D3)Nurul Aeni – diterima di Universitas Singaperbangsa Karawang jurusan Farmasi (S1)Aisyah Aulia – diterima di UPN Veteren Jakarta jurusan Keperawatan (S1) “Kami sangat bangga atas prestasi yang diraih oleh siswa/i kami. Ini merupakan bukti nyata bahwa SMK Kesehatan Bhakti Insani mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berdaya saing tinggi,” ujar M. Azhar Ma’moen,S.Kom, Kepala SMK Kesehatan Bhakti Insani. Beliau menambahkan, “Prestasi ini juga menjadi motivasi bagi siswa/i lainnya untuk terus belajar dan meraih prestasi yang lebih tinggi. Kami berharap SMK Kesehatan Bhakti Insani dapat terus berkontribusi dalam melahirkan generasi muda yang cerdas, terampil, dan berkarakter mulia.” SMK Kesehatan Bhakti Insani, Membangun Generasi Muda yang Sehat dan Berprestasi! 450 Views