Setiap bulan Ramadhan umat islam memperingati turunnya Al-Quran, nuzulul Quran, pada tanggal 17 Ramadhan. Ulama berpendapat pada tanggal tersebut merupakan turunnya ayat pertama kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira. Ayat yang pertama turun adalah perintah untuk membaca. Sebuah awal dari pintu gerbang keilmuan. Sayangnya belum lama ini, Kemenag merilis sebuah studi yang mengatakan bahwa lebih dari 50 persen guru agama islam di Indonesia tidak fasih baca Quran. Lebih mengenaskan lagi, pada tahun 2017 lalu, pernah dirilis sebuah studi yang mengatakan angka buta huruf Al-Quran di Indonesia lebih dari 60 persen. Padahal seperti yang kita tahu dan selalu dibanggakan, Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak. Miris memang melihat realita bahwa angka-angka itu terdapat di negara yang mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Islam. Lebih dari itu, jika kita mengikuti perkembangan PISA, sebuah Lembaga yang menilai kemampuan literasi, numerasi dan sains di puluhan negara di dunia, Indonesia rajin menempati posisi paling bontot dalam hal literasi. Disebutkan bahwa tidak banyak pelajar Indonesia yang menjadikan baca buku sebagai aktifitas harian mereka. Secara angka, hanya 1 dibanding 1000, artinya dari 1000 siswa hanya ada satu siswa yang menjadikan membaca sebagai kebiasaan mereka sehari-hari. Jika kita kembali mengingat masa keemasan Islam pada abad ke-7 hingga abad ke-13. Kita akan disodori banyak ilmuwan dari kalangan muslim yang menguasai peradaban. Bahkan saat itu, umat Islam sangat disegani dunia di tengah masa kegelepan bangsa Eropa. Kita dengan mudah mengingat nama sekelas Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Ibnu Batutah, Al-Kindi, Ibnu Rusydi, hingga Al-Ghazali. Semuanya adalah ilmuwan-ilmuwan Muslim yang karyanya diakui oleh dunia hingga masa modern ini. Dalam banyak referensi disebutkan bahwa diantara kebiasaan mereka adalah berdiskusi dan menghasilkan karya tulis. Seperti Al-Qanun fi Thib karya Ibnu Sina menjadi salah satu rujukan utama kedokteran modern saat ini. Proses lahirnya karya tentu tidak mungkin lahir dari isi kepala yang kosong. Tidak mungkin lahir dari nihilnya kebiasaan membaca pada diri ulama kit terdahulu. Sehingga kita dengan mudah memastikan, ilmuwan-ilmuwan muslim terdahulu hidup dengan kitab-kitab dan tradisi membaca yang kuat. Mereka tidak hanya membaca dan menghayati isi Al-Quran, tapi juga mengamalkan apa yang ada di dalam Al-Quran. Terutama ayat pertama yang turun pada Nabi Muhammad SAW, Bacalah! Sayangnya tradisi ini seperti hilang dari kalangan umat muslim, sejak runtuhnya masa keemasan Islam, dan datangnya masa pencerahan peradaban barat yang disebut renaissance. Umat Islam terlena dengan peradaban yang dibawa oleh masyarakat barat, terjun ke dalam riuhnya gaya hidup modernisme. Sehingga terus ada di bawah bayang-bayang barat selama lebih dari 5 abad lamanya. Umat Islam saat ini hanya bisa membangga-banggakan masa keemasan pendahulunya tanpa bisa mengembalikan masa keemasan itu lagi. Mungkin kita bangga ketika mendengar nama-nama ilmuwan seperti Ibnu Sina, namun hanya sampai situ yang kita bisa. Budaya membaca sendiri seperti bukan budaya masyarakat muslim saat ini. Padahal itulah perintah pertama, menurut pendapat umum, Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Seharusnya, kita mulai sadar dengan hal ini. Al-Quran merupakan kitab suci yang teramat lengkap untuk dipelajari. Untuk itu, ia bisa membawa umat muslim terdahulu menuju kemajuan. Karena mereka membaca, menghayati, hingga mengamalkan isi Al-Quran. Sebab Al-Quran adalah petunjuk bagi umat manusia. Sayangnya, saat ini Al-Quran semakin ditinggalkan, bahkan oleh umat muslim itu sendiri. Hal tersebut bisa kita lihat dari angka awal yang menunjukan berapa pengajar agama yang mampu membaca Al-Quran dan berapa pula angka buta huruf Al-Quran. Untuk itu, mari jadikan malam nuzulul quran sebagai momentum kita kembali kepada sumber petunjuk untuk umat manusia. Tidak hanya dirayakan dan diucapkan, tapi juga diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. 91 Views
Doa Bukan Sekedar Permintaan Biasa
Semua manusia memiliki harapan dalam hidupnya. Harapan-harapan itu kemudian dilambungkan dalam doa. Inilah yang selalu dilakukan oleh umat beragama terhadap Dzat yang Maha Kuasa. Dalam konteks muslim kita menyebutnya Allah SWT. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, disebutkan bahwa doa adalah inti dari ibadah. Ad-du’a mukhul ‘ibadah. Hadits tersebut dijelaskan oleh para ulama, intisari dari semua ibadah, termasuk shalat adalah doa. Artinya, setiap ibadah kita merupakan sebuah pengharapan kepada Allah SWT. Namun lebih dari itu, doa memiliki makna yang lebih dalam. Dalam kitab Hikam, Imam Ibnu Athoillah menuliskan sebuah hikmah. Apa yang kau pinta, tidak akan tertahan selama engkau memintanya kepada Tuhan (Allah). Namun, apa yang kau pinta tidak mudah dicapai bila engkau mengandalkan diri sendiri. Menurut KH. Sholeh Darat, yang menjelaskan kalam hikmah tersebut, doa merupakan bukti ketidak berdayaan manusia terhadap segala sesuatu yang diinginkannya. Baik itu keinginan duniawi ataupun keinginan ukhrawi. Ketika seseorang menyandarkan apa yang diinginkannya kepada dirinya sendiri maka keinginan tersebut tidak akan pernah berhasil. Adapun yang dimaksud dengan diri sendiri dalam penjelasan itu adalah kemampuan manusia itu sendiri, bahkan menyandarkannya pada logika dirinya sendiri. Bagaimanapun, manusia merupakan makhluk yang sangat lemah. Seperti yang dijelaskan dalam Al-Quran, sesungguhnya manusia adalah (makhluk) yang zalim dan bodoh. Salah satu kebodohan manusia adalah menyandarkan semua hajatnya, kepada selain Allah SWT. termasuk pada kemampuan dan logikanya sendiri. Sementara, ketika manusia menyandarkan semua keinginannya kepada Allah SWT. maka akan dengan sangat mudah keinginan tersebut dicapainya. Maka, doa pada hakikatnya adalah pengakuan kelemahan manusia. Ketika manusia berdoa, maka dia harus memasrahkan secara total segala sesuatunya pada Allah SWT. apapun tujuan dan maksudnya. Maka, jangan pernah sekalipun, seorang muslim meremehkan kekuatan doa. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Hakim disebutkan, doa merupakan senjata orang mukmin. Ketika seorang mukmin meragukan kekuatan doa, maka doa tersebut menjadi tumpul. Allah SWT. sudah menjamin dalam Al-Quran bagi siapapun yang berdoa maka pasti Allah SWT mengabulkannya. Beberapa ayat yang menjelaskan bahwa Allah SWT menjamin do’a pasti terkabul antara lain Qs. Al-Ghafir ayat 60 “Berdoalah padaKu, pasti akan Aku kabulkan” Al-Baqarah ayat 186 “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran” Kedua ayat tersebut kemudian juga dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits yang dikutip oleh Syeikh Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya Nashoihul Ibad. Nabi Muhammad SAW bersabda, Allah SWT tidak memberikan kepada seseorang kecuali telah menyiapkan lima hal lainnya. Tidak diberikan kepada seseorang rasa syukur kecuali telah Allah siapkan tambahan (nikmat), tidak diberikan pada seseorang doa kecuali telah Allah siapkan pengabulannya, tidak diberikan kepada seseorang istighfar kecuali Allah telah menyiapkan baginya pengampunan, tidak diberikan pada seseorang taubat kecuali Allah SWT telah menyiapkan penerimaanya, tidak diberikan kepada seseorang sedekah kecuali Allah SWT telah menyiapkan penggantinya. Artinya, dengan rentetan dalil tersebut, maka seharusnya tidak ada lagi keraguan pada diri kita terkait kekuatan doa. Selama bulan Ramadhan ini, perbanyaklah berdoa, karena Allah SWT sebagai Dzat yang Maha Pemurah akan sangat senang kepada hamba-Nya yang berdoa, karena doa adalah bukti hamba membutuhkan Tuhannya. 113 Views
Menambal Kekosongan Spiritual saat Ramadhan
Saat ini, manusia modern baik yang beragama, apalagi yang tidak beragama, banyak yang merasakan kehausan spiritual. Bahkan ada sebuah riset yang menjelaskan bahwa Gen Z banyak yang mulai mempertanyakan fungsi agama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tidak terjadi tanpa sebab. Melainkan ada sesuatu yang seharusnya bisa dijelaskan oleh umat beragama kepada mereka yang mulai mempertanyakan fungsi dan peran agama dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai seorang muslim, kita percaya bahwa Allah memberikan petunjuk yang sangat jelas melalui lisan Nabi Muhammad SAW. Petunjuk itu terangkum dalam Al-Qur’an. Dalam beberapa ayat, termasuk dalam surat Al-Baqarah ayat kedua, Al-Quran dijelaskan sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa. Tidak hanya itu saja, Al-Quran juga memiliki fungsi petunjuk bagi seluruh umat manusia. Hal ini Allah SWT abadikan dalam surat Al-Baqarah ayat 185. Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Manusia yang Allah SWT tempatkan di bumi, sudah diberikan bekal dalam menjalankan perannya di muka bumi ini. Bekal berupa manual book tentang bagaimana cara menjalani hidup di dunia ini. Bahkan, dalam surat Al-Baqarah ayat 185 di atas, dengan sangat eksplisit Allah SWT menjelaskan fungsi petunjuk dalam Al-Quran bagi manusia, berlaku secara universal. Tidak hanya untuk mereka yang beragama Islam saja. Petunjuk (hudan) yang diberikan Allah SWT dalam Al-Quran merupakan petunjuk universal yang dapat digunakan oleh siapa saja. Kemudian siapapun yang menggunakan petunjuk (hudan) itu dengan baik, niscaya akan mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Bukti ke-universal-an petunjuk Al-Quran adalah apa yang kita dengan dari cerita masukan Sayyidina Umar RA ketika memeluk agama Islam. Sosok khalifah kedua sepeninggalan Rasulullah SAW itu dikenal sebaga figure yang amat keras dan penuh keberanian. Bahkan, dia menjadi salah satu orang yang paling keras menentang dakwah Nabi Muhammad SAW di masa-masa awal penyebaran Islam. Namun ketika dia tidak sengaja mendengarkan lantunan ayat Al-Quran yang dibaca oleh saudara perempuannya, hatinya bergetar lalu seketika itu pula dia memeluk Islam, dan berbalik menjadi seseorang yang paling depan membela Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan Islam. Mungkin banyak lagi kisah yang dapat menjadi bukti bahwa petunjuk Al-Qur’an bersifat universal. Sayangnya, banyak orang saat ini, bahkan orang yang beragama Islam sekalipun, mulai meninggalkan Al-Quran. Al-Qur’an hanya dijadikan sebagai mahar perkawinan saja, atau bahkan hanya sebagai riasan rumah yang disimpan di rak buku tanpa pernah dibaca, apalagi dipelajari. Banyak yang semakin meninggalkan Al-Qur’an. Bahkan yang paling miris, angka buta huruf Al-Quran di Indonesia di atas 60 persen dari total penduduk muslim. Tidak hanya, Kemenag baru saja merilis data, 58,62 persen guru Pendidikan Agama Islam tidak fasih membaca Al-Quran. Hal inilah yang mungkin menyebabkan terjadinya kekosongan spiritual, bahkan dalam diri seseorang yang mengaku sebagai orang yang beragama. Untuk itu, bulan Ramadhan ini seharusnya bisa dijadikan momentum oleh umat Islam, bahkan seluruh umat manusia, sebagai waktu yang tepat untuk menambal kekosongan spiritual. Sebab pada bulan inilah Al-Qur’an Allah SWT turunkan dari lauh mahfudz ke langit bumi. 96 Views
Awal Kehancuran Puasa Kita
Sebagai makhluk sosial, tidak mungkin rasanya kita meninggalkan komunikasi dengan sesama kita. Dengan komunikasi ini jugalah pada akhirnya manusia dapat membangun peradaban. Hanya saja, peradaban semacam apa yang ingin dibangun dari proses komunikasi yang dijalankan. Dalam realita kehidupan sekarang ini, gossip sudah menjadi bagian dari hari-hari manusia. Melalui berbagai acara infotainment, dan saluran media lain yang lebih massif, manusia dengan mudah mengetahui aib orang lain yang seharusnya ditutupi oleh yang lainnya. Lalu apa yang kita saksikan di layar-layar kaca ataupun layar digital, secara tidak sadar melatih kita untuk menjadi penggosip handal. Dengan pola seperti itu, ghibah menjadi salah satu kebiasaan buruk yang melekat dalam kehidupan masyarakat modern. Bahkan, saking melekatnya, ghibah menjadi dosa yang seperti dimaklumi. Sebab tanpa adanya ghibah dalam komunikasi kita sehari-hari, rasanya komunikasi manusia modern sangat hambar. Padahal dalam Al-Quran, Allah SWT sudah sangat jelas mengumpamakan keburukan dari ghibah. Hal ini tertulis dalam surat Al-Hujurat ayat 12. Di dalam ayat tersebut, Allah mengumpamakan pelaku ghibah seperti seorang yang memakan bangkai temannya sendiri. Perumpamaan itu menggambarkan betapa menjijikannya perilaku ghibah. Ketika berpuasa, kita harus mampu melawan perilaku buruk ini. Dalam Kitab Fiqih, Matan Abi Syuja disebutkan ada tiga sunnah dalam menjalankan ibadah puasa. Pertama, menyegerakan berbuka, kedua mengakhirkan sahur, dan ketiga adalah meninggalkan perbincangan yang buruk dan bathil. Lalu dijelaskan, yang dimaksud dengan perbincangan buruk dan bathil diantaranya adalah mengumpat, ghibah, dan sejenisnya. Perbincangan yang buruk dan bathil ini akan menghilangkan pahala puasa yang dilaksanakan. Hal ini disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya, Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak peduli dia telah meninggalkan makanan dan minumannya. Artinya, Allah SWT tidak akan peduli dengan ibadah puasa seseorang yang saat berpuasa tetap melakukan perbuatan ghibah. Ulama madzhab Syafi’i sepakat bahwa ghibah tidak membatalkan puasa secara syariat, tapi membatalkan pahala puasa itu sendiri. Dengan kata lain, saat ada orang yang berpuasa namun melakukan ghibah, puasanya tetap sah tapi tidak mendapatkan pahala atas puasanya. Hal ini sesuai dengan apa yang diisyaratkan Nabi Muhammad SAW soal orang puasa tapi dia merugi. Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga. 92 Views
Tebarlah Jala Kebaikan Selama Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan merupakan salah satu bulan yang spesial bagi umat Muslim di manapun berada. Di antara keistimewaan bulan ini adalah diberikannya keberlimpahan oleh Allah SWT bagi manusia. Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW menjelaskan, bulan Ramadhan dibagi menjadi tiga bagian. Sepuluh hari pertama merupakan masa ampunan. Di mana Allah SWT, membukakan pintu ampunan seluas-luasnya bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa dan menghidupkan siang dan malamnya dengan Ibadah. Lalu, sepuluh hari kedua, merupakan masa diberikannya rahmat kepada mereka yang melaksanakan puasa dan menghidupkan siang dan malamnya dengan ibadah kepada Allah SWT. Rahmat merupakan kasih sayang Allah pada manusia. Pada masa ini, Allah membuka pintu kasih sayangnya. Tidak ada satu makhluk pun di muka bumi ini yang tidak membutuhkan kasih sayang Allah SWT. Sebab hanya dengan kasih sayang-Nya, kita bisa merasakan berbagai macam kenikmatan yang tidak akan pernah terhitung. Terakhir, sepuluh hari selanjutnya merupakan masa pembebasan dari api neraka. Dalam sepuluh hari terakhir ini, Allah SWT memberikan diskon sebesar-besarnya bagi umat muslim yang mau mendapatkan keringanan siksaan di hari pembalasan nanti. Pada sepuluh hari terakhir ini pula, Allah SWT menyelipkan satu malam spesial, malam lailatul qadar. Malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Dengan tiga masa itu, maka kita sebagai umat muslim harus mampu menebar jala kebaikan seluas-luasnya agar kita mendapatkan banyak kebaikan dari apa yang kita lakukan. Kebaikan dari Allah SWT merupakan sebuah misteri yang tidak diketahui oleh manusia. Bahkan terkadang, manusia lupa bahwa dirinya sedang mendapatkan kebaikan dari Allah SWT. Orang-orang itulah yang kemudian disebut dengan orang yang lalai. Tentu, dalam hidup kita, tidak selamanya kita ada dalam kondisi yang baik saat menjalankan kehidupan kita sebagai manusia. Kita mungkin ada dalam satu masalah yang menurut logika kita sebagai manusia, kita tidak akan mampu melewatinya. Ketika kita terus berupaya dengan segala kemampuan kita, kita seolah dibuat lupa ada Allah SWT yang mampu membuat kita terlepas dari segala masalah itu. Hanya dengan kebaikan Allah SWT sajalah kita dapat melampaui segala masalah pelik yang kita alami. Untuk itulah, selama bulan Ramadhan kita harus terus menebar jala kebaikan agar kita mendapatkan kebaikan dari Allah SWT yang Maha Baik. Sebab kita tidak pernah tahu, apa yang akan terjadi pada hidup kita di masa mendatang, dan kita juga tidak akan pernah tahu, kebaikan yang mana yang akan mengeluarkan kita dari kesulitan di masa mendatang. Untuk itu, teruslah menebar jala kebaikan di bulan yang baik ini. 86 Views
Berpuasa Tidak Butuh Validasi
Ada satu hadits yang selalu disampaikan oleh penceramah agama dalam ceramah mereka ketika bulan Ramadhan tiba. Bunyi kutipan hadits tersebut adalah “…Allah berfirman, puasa itu milikku (untukku) dan aku sendiri yang akan mengganjarnya”. Puasa memang memiliki tempat khusus sebagai sebuah ibadah. Seperti yang dijelaskan dalam artikel sebelumnya, ibadah puasa merupakan ibadah vertikal, antara Tuhan dengan hamba-Nya, juga merupakan ibadah horizontal, berdampak pada kehidupan sosial. Saat melaksanakan ibadah puasa, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa dia berpuasa atau tidak. Hanya dirinya dan Allah SWT yang tahu status puasanya. Seseorang mungkin melaksanakan sahur saat berpuasa, lalu dengan sengaja membatalkan ibadah puasanya di tengah hari dengan alasan yang tidak diperbolehkan. Lalu mengaku dirinya tetap berpuasa ketika bertemu dengan orang lain. Perilaku ini, yang dalam istilah anak muda sekarang dinamakan mokel, kerap terjadi. Pelaku mokel seolah lupa bahwa Allah tetap mengetahui apa yang mereka lakukan. Maka sesungguhnya, puasa melatih kita untuk berlaku jujur saat ada yang memperhatikan kita ataupun tidak ada yang memperhatikan. Seorang yang sedang berpuasa tidak memerlukan pengakuan dari orang lain bahwa dirinya berpuasa. Sebab, ibadah puasa hanya antara dirinya dan Tuhannya. Dengan pola seperti itu, manusia diajarkan untuk tidak haus validasi. Ada ataupun tidak yang menyaksikan, berbuat kebaikan adalah sebuah keharusan. Orang yang dengan tekun melaksanakan ibadah puasanya, harus bisa melatih diri untuk konsisten dengan kebaikannya. Terlebih jika orang tersebut sudah ada dalam masa akil baligh. Mungkin hal ini tidak berlaku untuk anak-anak kecil yang masih belajar berpuasa. Mereka membutuhkan dorongan motivasi agar puasa mereka sempurna selama 30 hari. Namun jika orang yang sudah berakal, akil baligh, masih membutuhkan motivasi tertentu untuk melaksanakan puasa, rasa-rasanya ada yang salah dengan cara pandangnya. Oleh karena itu, puasa secara tidak langsung melatih mental kita untuk tidak menjadi orang yang inferior. Orang dengan mental lemah, dan membutuhkan validasi atas apa yang mereka lakukan. Dengan berlatih untuk tidak haus validasi selama berpuasa, maka kita akan memiliki kesehatan mental yang stabil. Kita tidak akan cemas ketika orang tidak tahu bahwa kita sudah melakukan sesuatu. Kita akan tetap melaksanakan apa yang harus kita laksanakan, sekalipun tidak ada orang yang tahu. Berbeda jika ternyata selama bulan puasa, dia menjadi pelaku mokel yang konsisten. Bisa jadi dalam kehidupan sehari-hari, dia hanya akan melakukan sesuatu yang harus dia lakukan hanya saat ada yang memperhatikan saja. Selebihnya, dia dengan mudah akan membuat alasan, bahkan pembenaran atas perbuatannya. 120 Views
Salah Kaprah Berbukalah dengan yang Manis!
Sudah lama kita termakan dengan propaganda iklan yang mengatakan berbukalah dengan yang manis. Bahkan, ada sebagian orang yang menganggap, berbuka dengan yang manis adalah ajaran dari Nabi Muhammad SAW. Sejauh yang penulis tahu, adagium berbukalah dengan yang manis merupakan propaganda iklan sebuah produk minuman. Sejatinya, berbuka yang benar adalah berbuka secukupnya saja. Jika adapun tata cara berbuka puasa yang baik menurut Nabi Muhammad SAW, hanya anjuran seperti dalam hadits berikut. “Dari Anas bin Malik RA, ia berkata, Rasulullah SAW berbuka puasa dengan beberapa kurma matang dan basah (ruthab) sebelum melaksanakan shalat. Kalau tidak ada kurma basah, maka Rasulullah SAW berbuka dengan kurma kering (tamr). Bila tidak ada kurma kering, beliau meminum beberapa teguk air.” (HR Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi) Dalam hadits tersebut hanya dijelaskan jenis makanan terbaik untuk berbuka. Bukan menjelaskan makanan dengan cita rasa manis menjadi keharusan dalam berbuka puasa. Dengan persepsi makanan bercita rasa manis, terkadang kita salah dalam membatalkan puasa kita di waktu berbuka. Jika kita menelaah hadits tersebut di atas, kita menemukan diksi, bahkan jika kita tidak menemukan kurma untuk berbuka, maka cukuplah membatalkan puasa dengan minum air putih beberapa teguk saja. Artinya, ketika Nabi Muhammad SAW membatalkan puasanya, Nabi Muhammad SAW hanya makan atau minum secukupnya. Tidak mesti makanan manis apalagi makanan mewah. Dalam prakteknya di masyarakat kita, justru sebaliknya. Puasa sehari penuh seolah menjadi alasan untuk kita makan apa saja yang ingin kita makan ketika waktu berbuka tiba. Kebiasaan berbuka yang seperti ini justru berdampak buruk bagi kesehatan kita. Tidak jarang, bahkan membuat puasa kita menjadi ‘sia-sia’, karena kita tidak mendapatkan hakikat puasa itu sendiri. Puasa yang hakikatnya adalah menahan diri, dan mendidik diri kita untuk tidak tunduk terhadap nafsu, pada akhirnya tidak tercapai akibat kebiasaan buruk yang kita lakukan saat berbuka puasa selama 30 hari penuh. Untuk itu tidak heran, jika Nabi Muhammad SAW dari awal sudah mewanti-wanti umatnya agar tidak merugi saat melaksanakan ibadah puasa. Orang-orang yang merugi itu, Nabi gambarkan dengan hadits “berapa banyak dari orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga”. Tulisan ini tentu bukan melarang seseorang untuk tidak memakan makanan manis saat berbuka. Apalagi, menghukumi secara fiqh berbuka dengan makanan manis. Tulisan ini lebih ditekankan pada pentingnya esensi puasa itu sendiri. Jangan sampai karena ketidak pahaman kita, kita melakukan sesuatu yang sia-sia selama berpuasa. Akibatnya, puasa tidak merubah diri kita menjadi lebih baik. Sungguh sangat merugi, mereka yang melewati bulan Ramadhan tanpa mendapatkan apapun dari bulan Ramadhan itu sendiri. 111 Views
Tubuhmu Senang saat Berpuasa
Ada satu gaya hidup yang sedang digandrungi masyarakat urban belakangan ini. Intermittent Fasting, satu pola diet yang mengatur jam makan agar hidupnya lebih sehat. Dalam Intermittent Fasting, seseorang akan dilatih mengosongkan perutnya, dari sumber energi, termasuk gula, untuk memberikan kesempatan bagi tubuh melaksanakan tugasnya lebih maksimal lagi. Ketika memulai Intermittent Fasting, orang yang menjalankannya akan mulai dengan berpuasa selama 6 jam. Dalam waktu 6 jam itu, ia tidak boleh memasukan sumber energi apapun ke dalam tubuhnya. Ia boleh minum, hanya minum air putih. Jika ia merupakan peminum kopi, kopi yang diminum pun hanya boleh kopi tanpa gula. Begitu pun dengan teh dan minuman lainnya. Setelah 6 jam, maka dia akan ‘berbuka puasa’. Saat jam berbuka, mereka boleh memasukan makanan apapun ke dalam tubuhnya, sebelum jam makan tersebut usai dan jendela makan ditutup kembali. Lalu dia akan kembali berpuasa selama 6 jam, dan berbuka kembali. Begitu pola itu terus diulangi, hingga dia mampu melakukan puasa yang lebih lama. Bisa 12 jam, 18 jam, bahkan hingga 24 jam tanpa asupan gula. Dengan asupan energi yang diatur sedemikian rupa, seseorang yang melaksanakan Intermittent Fasting akan merasakan perubahan besar dalam tubuhnya. Ketika melaksanakan Intermittent Fasting, tubuh akan membakar lemak sebagai cadangan energi tubuh. Proses ini dinamakan lipolysis. Dengan begitu, pembakaran lemak, membuat kadar lemak menurun. Dengan turunnya kadar lemak, maka berat badan orang yang melaksanakan Intermittent Fasting akan turun secara drastis. Saat berpuasa juga, tubuh akan mengalami perbaikan sensitivitas insulin. Sebab tubuh tidak terus menerus dicekoki gula, sehingga insulin dapat bekerja dengan lebih baik. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa orang yang melaksanakan Intermittent Fasting lebih sedikit mengalami penyakit jantung koroner dan diabetes tipe 2. Dengan melakukan Intermittent Fasting juga, aktivitas mikroba di dalam usus seseorang menjadi lebih baik. Mikroba-mikroba tersebut lebih rendah menyerap energi saat seseorang melakukan Intermittent Fasting. Dengan kondisi ini, berat badan seseorang akan lebih stabil. Disebutkan bahwa orang yang melaksanakan Intermittent Fasting memiliki berat badan yang lebih stabil hingga 6 bulan. Kemudian, saat berpuasa, tubuh akan melakukan detoksifikasi dengan mengeluarkan autofagi, sel yang memakan sel-sel rusak di dalam tubuh manusia. Dengan begitu, tubuh orang yang Intermittent Fasting akan jauh lebih sehat dibandingkan mereka yang tidak melakukannya. Jika dengan pola diet Intermittent Fasting saja, bisa membuat tubuh manusia lebih sehat. Tidak mungkin rasanya, jika berpuasa selama 30 hari dalam tubuh manusia justru menjadi sakit. Justru ada hal yang perlu dipertanyakan jika setelah berpuasa di bulan Ramadhan kondisi tubuh kita tidak baik-baik saja. Sebab Nabi Muhammad pernah bersabda dalam haditsnya, berpuasalah maka kamu akan sehat. Rasanya tidak mungkin Nabi Muhammad SAW berbohong atas apa yang beliau ucapkan. 106 Views
Bahaya Rasa Kenyang bagi Hati
Selama bulan Ramadhan, kita diajarkan untuk merasakan perihnya perut yang kosong. Ternyata, di balik syariat puasa sudah banyak manfaat yang dibahas secara ilmiah bagi manusia. Seperti yang sudah kita bahas dalam beberapa artikel sebelum ini, puasa dapat menjadi sarana detoksifikasi bagi tubuh biologis manusia. Selain itu, puasa juga dapat menajamkan kecerdasan intelektual manusia. Ada fakta lain, ternyata perut yang kosong pun dapat mengasah hati manusia. Dalam kitab Nashoihul Ibad, Syekh Nawawi Al-bantani mengutip perkataan hikmah seorang sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud. Berkata Abdullah bin Mas’ud “ada empat kebiasaan yang menggelapkan hati. Perut yang kenyang berlebih, bergaul dengan orang-orang yang zalim, melupakan dosa masa lalu, dan Panjang angan-angan. Dan empat kebiasaan yang menjadi cahaya hati, perut yang lapar karena memelihara diri, berteman dengan orang-orang shalih, mengingat dosa masa lalu, dan pendek angan-angan.” Dalam kitabnya, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan yang dimaksud dengan kenyang berlebihan adalah rasa kenyang yang melebihi batas apa yang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW, pernah menjelaskan bahwa perut manusia dibagi menjadi tiga bagian. Sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air, dan sepertiga untuk udara. Tentu ada alasan yang sangat logis dari anjuran Nabi Muhammad SAW tersebut. Secara medis, ketika perut terlalu kenyang, isi lambung melebihi kapasitasnya, maka dia akan menekan diafragma. Dengan kondisi itu, maka seseorang akan kesulitan untuk bernafas. Pada kondisi itu, bisa dikatakan normal jika muncul rasa ngantuk karena adanya kekurangan suplai oksigen ke otak yang diakibatkan otot diafragma tidak bekerja dengan optimal. Otot diafragma yang bekerja tidak optimal artinya tarikan napas dan masukan oksigen tidak maksimal pula. Kemudian, rasa lapar akan melatih manusia menghargai fakir miskin. Secara fiqh, pembahasan fakir dan miskin ini dibagi secara berbeda, namun secara umum fakir miskin adalah mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan harian mereka dari hasil usaha mereka sendiri. Seperti pernah dibahas sebelumnya, puasa mengajarkan kita untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang fakir dan miskin. Masih menurut Imam Nawawi Al-Bantani, ketika kita berteman dengan orang fakir maka akan memunculkan rasa syukur dalam diri kita dan ridho terhadap ketentuan Allah SWT. terhadap kita. Sebaliknya, berteman dengan orang yang memiliki kekuasaan akan menumbuhkan kesombongan dan menghitamkan hati. Rasa syukur yang tumbuh dari apa yang kita rasakan terhadap apa yang dirasakan pula oleh orang fakir miskin, itulah yang disebut empati. Adapun empati, hanya akan tumbuh di dalam diri yang penuh dengan rasa peduli. Dengan begitu, mengosongkan perut akan mengasah empati manusia. Mengasah rasa syukur manusia, sehingga hati akan dipenuhi dengan sifat-sifat yang baik dan mengikis keburukan dari penyakit hati. 125 Views
Puasa Menajamkan Kecerdasan
Puasa secara bahasa berarti menahan diri dari sesuatu. Sementara dari segi syariat, puasa diartikan menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan pada siang hari dengan niat melaksanakannya dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Adapun yang ditahan dari puasa ini adalah syahwat atau keinginan yang berkaitan dengan keinginan perut dan kemaluan. Penjelasan ini dapat ditemukan dalam kitab Al-Fiqhu Al-Islamy wa Adillatuhu karya Dr. Wahbah Az-Zuhaili. Masih dalam kitab yang sama, Dr. Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan, puasa memiliki dampak positif bagi ruhani juga jasmani seseorang. Salah satu manfaat dari berpuasa adalah meningkatkan kecerdasan seseorang. Dalam kitabnya, Dr. Wahbah Az-Zuhaili, menukil salah satu ucapan Luqman Al-Hakim kepada anaknya. “Wahai anakku, apabila perut terisi, maka pikiran tertidur, kebijaksanaan terdiam, dan anggota tubuh lamban untuk beribadah.” Perut yang terisi penuh membuat seseorang tidak mampu berpikir secara optimal. Itulah mengapa sebabnya ulama-ulama kita terdahulu sangat berhati-hati perihal makan, agar mereka bisa mendapatkan kemurnian ilmu. Bahkan Imam Al-Ghazali menganjurkan bagi setiap pencari ilmu untuk selalu konsisten pada tiga hal selama proses belajarnya. Pertama, mengurangi makan. Perut yang kenyang, apalagi terlalu kenyang, akan menyebabkan kelambatan berfikir. Seseorang saat kenyang cenderung mengantuk, jangankan untuk berpikir, sekedar aktivitas fisik sehari-hari saja cenderung malas. Kemalasan inilah yang akan menyebabkan seorang pencari ilmu menjadi bodoh. Kedua, mengurangi berbicara. Karena terlalu banyak berbicara, apalagi membicarakan hal-hal yang sia-sia hanya akan menghabiskan waktu. Seseorang akan terlena dan hanyut dalam perbincangan sia-sia mereka, sehingga ia akan kehilangan waktunya untuk belajar. Ketiga, mengurangi tidur. Tidur yang terlalu lama, tidak sesuai dengan porsinya, juga akan menumpulkan pikiran, dan tentunya membuang banyak waktu yang sejatinya bisa digunakan untuk belajar. Kembali lagi, dengan manfaat puasa untuk menajamkan pikiran. Dalam dunia neuroscience, saat ini pun mulai dilakukan penelitian terhadap hubungan puasa dengan peningkatan kecerdasan. Disebutkan bahwa otak memiliki enzim yang disebut dengan Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) yang mengatur memori, pembelajaran, dan fungsi luhur manusia lainnya. Saat seseorang berpuasa, enzim ini meningkat, sehingga kemampuan yang berkaitan dengan memori dan pembelajaran pun menjadi lebih baik. Tidak ada satupun hal yang disyariatkan oleh Allah SWT bagi hamba-Nya yang tidak memberikan manfaat bagi hamba itu sendiri. Untuk itu, sebagai hamba yang baik, kita harus bisa untuk selalu berbaik sangka kepada Sang Maha Pencipta Allah SWT. 111 Views